Akses Sumbar-Riau Lancar Pasca Bencana Pangkalan

363
ilustrasi


Sarilamak – Akses Provinsi Sumatera Barat dengan Riau kembali lancar pascabencana banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Limapuluh Kota pada Jumat (3/3) dini hari.
“Sudah kembali lancar,” kata Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Penganggulangan Bencana Banjir dan Longsor Kabupaten Limapuluh Kota, AKBP Bagus Suropratomo saat konfrensi pers di Payakumbuh, Minggu.
Akibat bencana tersebut menyebabkan ruas jalan nasional yang menghubungkan kedua provinsi amblas, tepatnya pada kilometer 139 di Sibumbun Nagari (desa adat) Tanjung Balik, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, sehingganya menyebabkan akses kedua daerah lumpuh.
Ia menambahkan sejak Selasa kemarin, badan jalan yang amblas tersebut sudah dapat dilewati kembali, tetapi hanya untuk kendaraan roda dua, roda empat, serta kendaraan yang mengangkut sembako.
Sedangkan untuk kendaraan bermuatan berat belum diperbolehkan, akan tetapi saat ini semuanya sudah dapat lewat. Hal itu mengantisipasi agar kendaraan bertonase tinggi tidak perburuk sebab material penimbun badan jalan belum terlalu padat.
Bagus menyebutkan saat ini tim masih melakukan perbaikan terhadap ruas jalan yang rusak tersebut agar aman untuk dilewati.
Pihaknya mengimbau semua pengendara yang melintas di jalur Sumbar-Riau agar meningkat kewaspadaan serta hati-hati terutama pada saat hujan sebab tebing yang ada di pinggir jalan masih rawan longsor.
“Tingkatkan kehati-hatian serta berhentilah ditempat yang aman jika curah hujan tinggi,” kata dia yang juga Kapolres Limapuluh Kota.
Menurutnya, ruas jalan tersebut merupakan urat nadi perekomonian kedua daerah, sebab sebagian besar kebutuhan pokok atau sembako untuk Riau dipasok dari Sumbar. Jika akses lumpuh maka berpengaruh terhadap harga kebutuhan pokok di Riau.
Sebelumnya Bupati Limapuluh Kota, Irfendi Arbi mengatakan bencana banjir dan longsor tersebut melanda delapan kecamatan yang ada di kabupaten tersebut, dimana lokasi yang terparah adalah Kecamatan Pangkalan Koto Baru dan Kapur IX.
Akibatnya ada tidak nagari (desa adat) terisolasi sebab jalan menuju tiga nagari tersebut putus. Selain itu juga menyebabkan akses Sumbar-Riau Lumpuh.
Untuk menyalurkan logistik ke nagari-nagari yang terisolasi itu terpaksa menggunakan helikopter yang dikirim oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebab tidak dapat ditempuh melalui jalur darat.
Selain itu bencana banjir dan longsor tersebut juga menelan delapan korban jiwa serta tiga orang luka berat.

comments

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.