Dalam rilis yang disampaikan pada Minggu pagi, BMKG menjelaskan bahwa peningkatan curah hujan dipicu oleh aktivitas atmosfer yang signifikan, termasuk pengaruh gelombang ekuatorial dan kelembapan udara yang tinggi. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang dan petir. Wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi termasuk daerah yang berpotensi terdampak.
Bapak pejabat BMKG dalam konferensi pers menyatakan bahwa masyarakat di daerah rawan banjir dan longsor perlu meningkatkan kewaspadaan. “Kami mengimbau pemerintah daerah untuk menyiapkan langkah mitigasi serta memastikan sistem drainase dan tanggap darurat berjalan optimal,” ujar Bapak tersebut pada Minggu siang di kantor pusat BMKG. Ia menambahkan bahwa informasi prakiraan cuaca akan terus diperbarui secara berkala.
Sejumlah daerah di Sumatera Barat dilaporkan mengalami peningkatan intensitas hujan pada awal periode peringatan tersebut. Pemerintah daerah setempat telah mengaktifkan posko siaga bencana untuk mengantisipasi kemungkinan banjir dan tanah longsor. Petugas gabungan dari BPBD, TNI, dan Polri juga disiagakan untuk membantu evakuasi apabila diperlukan.
Bapak pengamat meteorologi dari perguruan tinggi negeri di Jakarta menjelaskan bahwa periode Februari memang masih termasuk puncak musim hujan di beberapa wilayah Indonesia. Ia menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur serta kesadaran masyarakat dalam menghadapi cuaca ekstrem. “Mitigasi yang cepat dan terkoordinasi akan sangat menentukan dalam meminimalkan dampak bencana,” ujarnya pada Minggu sore.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk terus memantau informasi resmi melalui kanal komunikasi yang tersedia. Selain itu, warga diimbau menghindari aktivitas di daerah rawan saat hujan lebat berlangsung. Dengan kewaspadaan bersama, dampak cuaca ekstrem diharapkan dapat diminimalkan selama periode 15–21 Februari 2026.
Sumber: BMKG Indonesia



