Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ads

SBY Peringatkan Risiko Perang Darat di Iran, Soroti Pelajaran Irak hingga Vietnam

Kabasurau.co.id: JAKARTA — Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menyampaikan peringatan serius terkait potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam tayangan podcast bertajuk SBY Standpoint, ia menekankan bahwa opsi pengiriman pasukan darat ke Iran harus dipertimbangkan secara sangat matang. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Dalam pemaparannya, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa Iran memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan negara-negara seperti Irak dan Afghanistan. Ia menilai pendekatan militer yang pernah diterapkan di kedua negara tersebut tidak dapat disamakan begitu saja dengan kondisi Iran saat ini. Menurutnya, kompleksitas wilayah, kekuatan militer, serta struktur sosial-politik Iran menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan.

“Iran itu Iran. Bukan Afghanistan, bukan Irak,” ujar Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dalam suasana diskusi analitis pada podcast yang ditayangkan melalui kanal YouTube pribadinya, Selasa (3/3/2026). Pernyataan tersebut disampaikan dengan nada tegas sebagai penegasan atas kehati-hatian dalam pengambilan keputusan militer. Ia juga menyoroti pentingnya memahami karakter medan tempur sebelum melakukan intervensi langsung.

Berdasarkan pengalamannya selama 30 tahun sebagai perwira TNI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan bahwa keunggulan teknologi militer memiliki keterbatasan di lapangan. Ia menyinggung sejumlah konflik besar, seperti Perang Vietnam serta operasi militer di Irak dan Afghanistan, yang menunjukkan bahwa kemenangan taktis tidak selalu berujung pada kemenangan strategis. Menurutnya, sejarah telah memberikan banyak pelajaran yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan utama.

Lebih lanjut, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono menyoroti risiko perang berkepanjangan tanpa kejelasan strategi keluar atau exit strategy. Ia menilai keterlibatan pasukan darat dalam konflik berskala besar berpotensi menimbulkan korban jiwa yang signifikan. Selain itu, tekanan moral terhadap prajurit yang bertugas jauh dari tanah air juga menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan.

“Soldiers will not fight and die unless they know what they fight and die for,” ujar Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, mengutip pernyataan yang pernah disampaikannya sebelumnya dalam konteks kepemimpinan militer. Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana reflektif sebagai pengingat akan pentingnya tujuan yang jelas dalam setiap operasi militer. Ia menekankan bahwa kejelasan misi menjadi kunci utama dalam menjaga moral dan efektivitas pasukan.

Di akhir analisanya, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono berharap para pemimpin dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat dan Perdana Menteri Israel, dapat mempertimbangkan dampak jangka panjang sebelum mengambil langkah militer. Ia mengingatkan bahwa keputusan tersebut tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi juga pada stabilitas global secara keseluruhan. Oleh karena itu, pendekatan diplomasi dinilai tetap menjadi pilihan yang lebih bijak.

Pernyataan ini menegaskan kembali pentingnya kehati-hatian dalam menghadapi dinamika geopolitik yang kompleks. Dengan latar belakang militer dan pengalaman kepemimpinan, pandangan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono menjadi salah satu referensi penting dalam memahami risiko konflik berskala besar. Pada akhirnya, upaya pencegahan konflik dinilai sebagai langkah yang lebih strategis dibandingkan memulai perang yang konsekuensinya sulit dikendalikan.

Sumber: Detik.com
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Surau TV, Klik : WA Grup & Telegram Channel
Copyright © 2025 - Kabasurau.co.id | All Right Reserved