Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ads

Rasuna Said: Singa Betina dari Ranah Minang yang Berani Melawan Penjajah

Artikel Sejarah

Oleh: Muhammad Okta Ilvan, S.Sos | Redaksi Kabasurau.co.id
Editor: Tim Redaksi

Kabasurau.co.id: Padang — Dalam deretan tokoh perjuangan Indonesia, nama Rasuna Said menempati posisi istimewa. Ia bukan hanya seorang pejuang, tetapi juga simbol keberanian perempuan Minangkabau dalam melawan penjajahan. Julukan “Singa Betina” yang disematkan kepadanya bukan tanpa alasan—pidato-pidatonya mengguncang kekuasaan kolonial Belanda.

Lahir dari Tradisi Pendidikan dan Perjuangan

Rasuna Said lahir pada 14 September 1910 di Maninjau, Sumatera Barat. Ia tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi pendidikan dan nilai agama. Sejak muda, ia telah menunjukkan ketertarikan pada dunia pendidikan dan pergerakan.

Ia menempuh pendidikan di sekolah agama dan kemudian aktif mengajar. Namun, semangatnya tidak berhenti di ruang kelas. Rasuna mulai terlibat dalam organisasi pergerakan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Suara Perlawanan dari Seorang Perempuan

Pada masa itu, sangat jarang perempuan tampil di ruang publik untuk menyuarakan perlawanan. Namun Rasuna Said justru tampil berbeda. Ia aktif berpidato di berbagai forum, menyampaikan kritik tajam terhadap penjajahan Belanda.

Pidato-pidatonya dikenal berani dan lantang. Ia secara terbuka mengecam ketidakadilan yang dilakukan pemerintah kolonial. Hal ini membuatnya menjadi salah satu tokoh yang diawasi ketat oleh Belanda.

Keberaniannya mencapai puncak ketika ia ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah kolonial karena pidatonya. Rasuna Said menjadi salah satu perempuan pertama yang dijerat dengan pasal “haatzai artikelen” (pasal penyebar kebencian terhadap pemerintah kolonial).

Perjuangan Melalui Pendidikan

Selain berpidato, Rasuna Said juga berjuang melalui pendidikan. Ia percaya bahwa kemerdekaan tidak hanya diraih melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ia mendirikan sekolah dan aktif mengajar, terutama untuk perempuan. Baginya, perempuan harus memiliki pendidikan yang setara agar mampu berperan dalam pembangunan bangsa.

Peran dalam Politik Nasional

Setelah Indonesia merdeka, Rasuna Said tetap aktif dalam dunia politik. Ia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan terus memperjuangkan hak-hak rakyat, khususnya perempuan.

Perjuangannya tidak hanya terbatas pada masa penjajahan, tetapi juga berlanjut dalam upaya membangun Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Warisan yang Tak Terlupakan

Rasuna Said wafat pada 2 November 1965. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan utama di berbagai kota di Indonesia, termasuk di Jakarta.

Di Sumatera Barat, sosoknya dikenang sebagai simbol keberanian perempuan Minangkabau yang tidak tunduk pada ketidakadilan.

Kisah Rasuna Said adalah bukti bahwa perjuangan tidak mengenal batas gender. Dengan keberanian dan kecerdasannya, ia mampu menjadi suara perlawanan di tengah dominasi kekuasaan kolonial.

Dari Ranah Minang, lahir seorang perempuan yang tidak hanya menginspirasi zamannya, tetapi juga generasi setelahnya. Sosok “Singa Betina” ini tetap hidup dalam ingatan bangsa sebagai simbol keberanian dan keteguhan prinsip.

Artikel ini pertama kali tayang di kabasurau.co.id
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Surau TV, Klik : WA Grup & Telegram Channel
Copyright © 2025 - Kabasurau.co.id | All Right Reserved