4 Maret 2024

Syarah Riyadhus sholihin
Bab 14 : Tidak Berlebihan dalam Ketaatan

Hadits No. 152


152 – وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَ: بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ إِذَا هُوَ بِرَجُلٍ قَائِمٍ، فَسَأَلَ عَنْهُ فَقَالُوا: أَبُو إِسْرَائِيلَ نَذَرَ أَنْ يَقُومَ فِي الشَّمْسِ وَلَا يَقْعُدَ، وَلَا يَسْتَظِلَّ وَلَا يَتَكَلَّمُ، وَيَصُومُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((مُرُوهُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَلْيَسْتَظِلَّ وَلْيَقْعُدْ وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ.(رواه البخاري)


152. Dari Ibnu Abbas, ia menceritakan; Pada waktu Nabi sedang berkhutbah, terlihat seorang laki-laki yang tengah berdiri. Lalu beliau menanyakan perihal orang tersebut. Para Sahabat pun memberitahukan: “Dia (laki-laki itu adalah) Abu Isra-il; yang bernadzar untuk berdiri di bawah terik matahari dan tidak duduk, tidak berteduh, dan tidak pula berbicara, sedangkan ia keadaan berpuasa.” Maka Nabi berseru: “Suruhlah dia agar berbicara, berteduh, duduk, dan menyempurnakan (meneruskan) puasanya.” (HR. Al-Bukhari)

Disini Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang berkhutbah disebutkan bahwasanya beliau shallallahu alaihi wasallam sedang berkhutbah ketika haji wada'(perpisahan).

Kandungan Hadits

1. Dalam syariat Islam, nadzar untuk tidak berbicara tidak termasuk bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Maka didalam hadist Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan tuk berbicara, berteduh,dan duduk karena hal tersebut bukan didalam ketaatan kepada Allah.

2. Allah tidak akan menerima suatu amalan yang tidak disyariatkan, tidak diizinkan, dan tidak dijadikan-Nya sebagai jalan bagi hamba untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

3. Segala sesuatu yang bisa menyakiti diri sendiri dan tidak disyariatkan baik oleh al-Qur-an maupun as-Sunnah, ia tidak sepatutnya dijadikan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.seperti orang syi’ah arraafidhah di negri Iran, ketika diawal bulan muharram mereka menyakiti diri mereka sendiri didalam rangka tuk mendekatkan diri. karena mereka sedih dan meratapi dengan apa yang telah tterjadi. Maka ini jelas tidak pernah disyariatkan baik dari Alquran dan As Sunnah.

4. Tidak ada ketaatan di dalam nadzar untuk kemaksiatan. Siapa saja yang bernadzar melakukan kemaksiatan tidak perlu memenuhinya. Oleh karena itulah, Rasulullah memerintahkan Abu Isra-il untuk berbicara dan berteduh.

5. Nadzar dalam bentuk ketaatan kepada Allah harus dipenuhi dan tidak boleh dikurangi. Maka itu, Rasulullah tetap memerintahkan Abu Isra-il untuk menyempurnakan puasanya.

6. Hendaklah seseorang menanyakan sesuatu yang dianggap aneh atau janggal sebelum mengingkarinya.

7. Keharusan mengubah kemungkaran dengan tangan (kekuatan) jika mampu melakukannya; sedangkan jika tidak mampu, maka diubah dengan lisan (perkataan).

8. Boleh mewakilkan seseorang untuk menyampaikan suatu jawaban, perintah, ataupun larangan yang dikemukakan orang lain. Di sini, Rasulullah memerintahkan para Sahabat agar menyampaikan kepada Abu Isra-il ihwal perintah beliau.

Hubungan nya dengan hadist ini adalah hendak seorang tersebut melakukan ketaatan kepada Allah dengan moderat tidak berlebihan dan tidak juga mengurangi/ meremehkan nya.

===========================

Kajian Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadhus Shalihin (بهجة النا ظرين شرح رياض الصالحين) Karya Syaikh Salim Bin ‘Ied Al-Hilali حفظه الله تعالى bersama Buya Muhammad Elvi syam Lc. MA. Kajian Hari Rabu 13 Oktober 2021 di Masjid Al-Hakim.

Penulis: Ustadz Rahmat Ridho, S. Ag | Editor: Resma

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Kabasurau.co.id, Klik : WA Grup & Telegram Channel

comments

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *