Sidang Isbat dimulai pada pukul 16.30 WIB dengan pemaparan posisi hilal oleh tim ahli astronomi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Berdasarkan data yang dipaparkan, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah kriteria visibilitas yang telah ditetapkan pemerintah. Setelah melalui diskusi tertutup bersama perwakilan organisasi masyarakat Islam dan para ahli, keputusan resmi diumumkan pada pukul 18.30 WIB.
Menteri Agama, Bapak Yaqut Cholil Qoumas, dalam konferensi pers yang digelar seusai sidang, menyampaikan bahwa keputusan ini diambil secara musyawarah dan berdasarkan pertimbangan ilmiah serta syariat. “Berdasarkan hasil hisab dan laporan rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di Indonesia, disepakati bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026,” ujar Bapak Yaqut dengan suara tegas di hadapan awak media.
Beliau menambahkan bahwa pemerintah menghormati adanya perbedaan pandangan dalam penentuan awal Ramadan di tengah masyarakat. Menurut Bapak Yaqut, perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika umat Islam yang harus disikapi dengan bijaksana. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan ketertiban selama menjalankan ibadah puasa.
Suasana pengumuman berlangsung tertib dan khidmat, dengan puluhan wartawan dari berbagai media nasional memenuhi ruang konferensi pers. Sejumlah pejabat kementerian tampak mendampingi Menteri Agama saat membacakan keputusan resmi pemerintah. Di luar gedung, masyarakat menunggu hasil sidang melalui siaran langsung televisi dan media daring.
Dengan penetapan tersebut, umat Islam di Indonesia memiliki kepastian waktu untuk memulai ibadah puasa Ramadan tahun ini. Pemerintah berharap masyarakat dapat mempersiapkan diri secara lahir dan batin menyambut bulan suci dengan penuh khusyuk. Keputusan ini sekaligus menjadi pedoman resmi bagi seluruh instansi pemerintah dan masyarakat luas dalam menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah.
Reporter: ilvan | Langsung dari sedang isbat



