Kenaikan harga plastik disebut-sebut dipicu oleh naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada biaya produksi bahan baku. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa lonjakan harga tersebut berkaitan dengan dampak konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga energi global.
Di tingkat lokal, kondisi ini dirasakan langsung oleh para pedagang. Beni (35), pemilik Toko Aneka Plastik di Pasar Raya Solok, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sudah terjadi sejak dua pekan menjelang Lebaran pada Maret lalu dan masih berlangsung hingga kini.
“Sudah naik sejak dua minggu jelang Lebaran sampai sekarang,” ujarnya saat diwawancarai pada Rabu (1/4/2026).
Menurut Beni, kenaikan harga terjadi hampir di semua jenis produk plastik, mulai dari kantong, gelas, hingga peralatan makan sekali pakai. Lonjakan ini disebabkan oleh meningkatnya harga bahan baku dari distributor, yang kemudian berdampak langsung pada harga jual di tingkat pedagang.
Ia mencontohkan, plastik jenis PE yang sebelumnya dijual Rp25 ribu per pak kini naik menjadi Rp55 ribu. Produk thinwall mengalami kenaikan dari Rp30 ribu menjadi Rp35 ribu per pak, sementara plastik kecil yang sebelumnya Rp5 ribu kini menjadi Rp10 ribu. Bahkan, harga kresek dalam jumlah besar melonjak dari Rp630 ribu per bal menjadi sekitar Rp1 juta per bal.
“Kenaikannya gila-gilaan. Hampir semua jenis plastik naik,” kata Beni.
Tidak hanya plastik, harga kertas bungkus dan sendok plastik juga ikut terdongkrak. Kertas bungkus naik dari Rp25 ribu menjadi Rp30 ribu, sementara sendok plastik dalam beberapa kasus mengalami kenaikan hingga dua kali lipat.
Kenaikan harga ini berdampak signifikan terhadap penjualan. Beni mengaku omzetnya turun hingga 40 persen dibandingkan kondisi normal. Menurutnya, banyak pelanggan yang mengurangi jumlah pembelian untuk menekan pengeluaran.
“Biasanya beli 10, sekarang jadi 5. Pembeli berkurang jauh karena mereka menghemat,” ujarnya.
Untuk mempertahankan pelanggan, Beni terpaksa mengambil margin keuntungan yang sangat tipis, bahkan terkadang hanya sedikit di atas harga modal. Meski demikian, ia mengaku kondisi pasar tetap lebih sepi dari biasanya.
Di sisi lain, persoalan tidak hanya berhenti pada harga. Ketersediaan barang juga mulai terbatas. Beberapa jenis plastik bahkan sulit ditemukan karena terganggunya pasokan bahan baku.
“Banyak barang kosong. Pabrik juga kesulitan produksi karena bahan mentah tidak ada,” katanya.
Hingga saat ini, para pedagang belum dapat memastikan kapan harga akan kembali stabil. Fluktuasi harga dari distributor masih terjadi, sehingga ketidakpastian masih membayangi pelaku usaha di sektor ini.
“Selama saya jualan, ini yang paling tinggi harganya. Belum tahu ke depan apakah turun atau justru naik lagi,” tutup Beni.
Reporter: Ilvan



