Perintah tersebut disampaikan usai peninjauan langsung ke lokasi penyeberangan berbahaya pada Senin (4/5/2026) malam. Bupati didampingi Wakil Bupati Rahmat Hidayat serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
“Besok pengerjaan jembatan darurat harus sudah dimulai. Kami tidak ingin insiden serupa terulang kembali yang berpotensi menimbulkan korban jiwa,” tegas John Kenedy Azis di lokasi.
Kondisi darurat ini bermula dari runtuhnya jembatan permanen yang menghubungkan Kayu Tanam dan Nagari Anduring akibat bencana hidrometeorologi pada November 2025. Sejak saat itu, warga terpaksa menyeberangi Sungai Batang Anai menggunakan alat seadanya, termasuk seutas tali, dengan risiko tinggi.
Insiden terbaru terjadi pada Minggu (3/5/2026), ketika seorang lansia bernama Afrizal Yatim (70) nyaris hanyut saat mencoba menyeberang. Pegangannya terlepas di tengah derasnya arus sungai, membuatnya terseret dan hampir tenggelam.
Beruntung, aksi cepat seorang pemuda setempat, Kadri Maiwansyah (25), berhasil menyelamatkan korban. Ia nekat terjun ke sungai demi menolong Afrizal.
“Ambo lansuang tajun ka batang aia untuak manolong pak Afrizal nan hanyuik dan hampie tabanam,” ujar Kadri menceritakan detik-detik penyelamatan.
Atas keberaniannya, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman memberikan apresiasi khusus kepada Kadri berupa sebuah telepon seluler sebagai bentuk penghargaan atas aksi kemanusiaannya.
Meski pembangunan jembatan permanen telah masuk dalam Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi (R3) Provinsi Sumatera Barat, Bupati menegaskan langkah darurat tidak bisa ditunda. Ia meminta Dinas Pekerjaan Umum dan OPD terkait segera mengeksekusi pembangunan jembatan sementara.
Selain itu, pengawasan proyek juga akan diperketat. Bupati menginstruksikan perangkat nagari hingga kecamatan untuk melakukan pemantauan harian dan melaporkan progres pembangunan secara rutin.
“Jalur ini sangat vital bagi aktivitas masyarakat. Karena itu, aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama,” ujarnya menegaskan.
Sumber: Info Sumbar



