Kabasurau.co.id: Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengeluarkan pernyataan resmi mengenai notifikasi penarikan diri Amerika Serikat (AS) sebagai anggota organisasi tersebut pada 24 Januari 2026. Keputusan ini dinilai memiliki implikasi luas terhadap kerja sama kesehatan global di tengah tantangan penyakit menular dan isu kesehatan lintas negara.
Menurut keterangan WHO, AS merupakan salah satu anggota pendiri WHO dan selama bertahun‑tahun berkontribusi besar terhadap berbagai pencapaian organisasi, termasuk eliminasi cacar, serta penanggulangan poliomielitis, HIV, Ebola, influenza, dan malaria. “Kontribusi AS telah menjadi bagian penting dari respons global terhadap ancaman kesehatan, dan perubahan status keanggotaannya akan berdampak pada dinamika kerja sama internasional,” demikian tertulis dalam pernyataan tertanggal 24 Januari 2026.
Bapak James Campbell, pakar hubungan internasional dan kebijakan kesehatan global di Universitas Global Health, saat diwawancarai wartawan menjelaskan bahwa keputusan tersebut mencerminkan pergeseran strategi politik dan kebijakan dalam prioritas nasional AS. “Keputusan menarik diri seringkali berakar pada peninjauan ulang kebijakan luar negeri yang sedang berlangsung, namun implikasinya bisa melemahkan koordinasi respons terhadap pandemi di masa depan,” ujarnya dari Washington D.C., Sabtu sore WIB.
Sementara itu, sejumlah negara mitra WHO menyatakan keprihatinan terkait perubahan status keanggotaan AS di WHO. Ibuk Maria Hernández, wakil delegasi dari salah satu negara anggota WHO, mengatakan bahwa “setiap langkah yang memengaruhi kolaborasi internasional perlu ditanggapi dengan komitmen yang lebih kuat untuk memastikan kesinambungan bantuan kesehatan lintas batas negara.” Ia menyampaikan hal ini dalam sesi diskusi virtual antar perwakilan kesehatan global yang digelar siang tadi.
WHO menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama dengan seluruh negara anggota yang tersisa serta memaksimalkan sinergi kebijakan kesehatan global. Dalam pernyataannya, organisasi tersebut menyerukan kata sepakat kesetaraan akses vaksin dan layanan kesehatan sebagai prioritas utama untuk menjawab tantangan kesehatan yang terus berkembang.
Sumber: CNBC Indonesia



