Kabasurau.co.id: Jakarta — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,15 persen di Indonesia pada Januari 2026. Data ini diumumkan pada Senin, 2 Februari 2026, dan menunjukkan penurunan harga barang dan jasa setelah periode inflasi tinggi pada Desember 2025. Fenomena ini sebagian besar dipengaruhi oleh stabilisasi harga pangan pascabanjir dan longsor di beberapa wilayah Sumatera.
Kepala BPS, Bapak Suhariyanto, menjelaskan bahwa deflasi terjadi akibat turunnya harga beberapa komoditas penting seperti sayuran, ikan, dan bahan pokok lainnya. Ia menyampaikan keterangan tersebut dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, pada Senin siang, 2 Februari 2026. “Penurunan harga ini menandakan pasokan pangan mulai stabil setelah gangguan akibat bencana, sehingga mempengaruhi indeks harga konsumen secara keseluruhan,” ujarnya.
Selain itu, deflasi juga tercatat di sektor transportasi dan energi, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap penurunan inflasi bulan ini. Suasana konferensi pers tampak serius namun kondusif, dihadiri sejumlah ekonom, wartawan, dan pejabat terkait. BPS menekankan bahwa deflasi bulan Januari 2026 bersifat sementara dan merupakan bagian dari fluktuasi ekonomi normal.
Sebagai penutup, BPS mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan harga di pasar dan menjaga konsumsi agar stabil. Langkah pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan pokok dan stabilitas harga menjadi kunci dalam menjaga daya beli masyarakat selama awal tahun 2026.
Sumber: CNBC INDONESIA



