Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa malam sekitar pukul 19.00 WIB, Menteri Agama Bapak Yaqut Cholil Qoumas menekankan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah. “Perbedaan dalam penetapan awal Ramadan bukanlah hal baru. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga persatuan dan saling menghormati satu sama lain,” ujar Bapak Yaqut di hadapan awak media.
Beliau menjelaskan bahwa pemerintah menggunakan metode hisab dan rukyat yang telah disepakati bersama organisasi masyarakat Islam dalam Sidang Isbat. Keputusan tersebut diambil secara musyawarah dengan mempertimbangkan data ilmiah dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika serta laporan rukyatul hilal dari berbagai daerah. Menurutnya, keputusan itu bersifat resmi dan menjadi pedoman nasional.
Bapak Yaqut juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak memperdebatkan perbedaan secara berlebihan di ruang publik. Ia menegaskan bahwa perbedaan ijtihad dalam menentukan awal bulan hijriah telah berlangsung sejak lama dalam tradisi keilmuan Islam. Pemerintah, kata beliau, menghormati setiap pandangan selama tetap menjaga ketertiban umum.
Suasana konferensi pers berlangsung tertib dengan pengamanan aparat di sekitar gedung kementerian. Sejumlah perwakilan organisasi masyarakat Islam terlihat hadir dan menyampaikan sikap menerima keputusan pemerintah. Di media sosial, diskusi terkait perbedaan awal Ramadan menjadi perhatian publik sepanjang malam itu.
Dengan adanya imbauan tersebut, pemerintah berharap umat Islam di Indonesia dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang dan penuh khusyuk. Momentum bulan suci diharapkan menjadi sarana memperkuat persaudaraan, bukan memperuncing perbedaan. Persatuan dan toleransi dinilai sebagai fondasi utama dalam menjaga keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sumber: kompas.com



