Kabasurau.co.id: Teheran — Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan akan terus melanjutkan operasi militernya yang ditujukan kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Pernyataan tersebut disampaikan melalui kantor hubungan masyarakat IRGC dan dikutip oleh media Iran, termasuk West Asia News Agency. Klaim ini muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada pertengahan Maret dalam suasana penyampaian keterangan militer, IRGC menyebut operasi tersebut sebagai bagian dari gelombang ke-52 dari operasi yang mereka sebut “Operation True Promise 4.” Bapak perwakilan IRGC dalam pernyataan tersebut menyampaikan bahwa operasi ini merupakan kelanjutan dari rangkaian aksi militer sebelumnya. Ia menegaskan bahwa operasi tersebut akan terus berlanjut sesuai dengan strategi yang telah ditetapkan.
Menurut IRGC, apa yang mereka sebut sebagai “putaran pertama pembalasan” dilakukan sebagai respons atas kematian sejumlah pekerja di kota-kota industri di Iran. Dalam pernyataan tersebut, pihak IRGC mengklaim bahwa serangan diarahkan kepada pihak yang mereka sebut sebagai “penjahat teroris Amerika-Zionis.” Pernyataan ini disampaikan dalam konteks meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Lebih lanjut, IRGC menyatakan bahwa operasi militer dilakukan secara gabungan menggunakan rudal dan drone. Serangan tersebut diklaim diarahkan ke sejumlah target di wilayah Israel serta beberapa fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Dalam pernyataan tersebut, disebutkan bahwa serangan mencakup penggunaan rudal balistik dan sistem drone dalam satu rangkaian operasi terpadu.
Dalam klaimnya, IRGC menyebut rudal berat yang diluncurkan menghantam kawasan industri di Tel Aviv. Mereka juga menyatakan bahwa suara sirene ambulans serta laporan otoritas Israel mengenai peningkatan jumlah korban menunjukkan dampak dari serangan tersebut. Namun demikian, hingga saat ini belum terdapat konfirmasi independen terkait klaim tersebut dari pihak Israel.
Selain itu, IRGC juga mengklaim telah menargetkan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan. Lokasi yang disebut meliputi Al-Harir Air Base, Ali Al Salem Air Base, serta Camp Arifjan. Serangan terhadap fasilitas tersebut, menurut IRGC, dilakukan sebagai bagian dari respons terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik.
Dalam bagian lain pernyataannya, IRGC menyebut bahwa status Bapak Benjamin Netanyahu belum dapat dipastikan. Mereka mengklaim terdapat kemungkinan bahwa pemimpin Israel tersebut telah tewas atau melarikan diri bersama keluarganya. Pernyataan ini disampaikan tanpa disertai bukti independen dan belum dikonfirmasi oleh pihak berwenang Israel.
Pernyataan tersebut ditutup dengan ancaman bahwa apabila Bapak Benjamin Netanyahu masih hidup, maka operasi akan terus dilanjutkan. IRGC menegaskan bahwa mereka akan meningkatkan tekanan militer dalam operasi berikutnya. Pernyataan ini memperlihatkan eskalasi retorika yang semakin tajam dalam konflik yang sedang berlangsung.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Israel maupun Amerika Serikat terkait seluruh klaim yang disampaikan IRGC. Situasi ini menunjukkan perlunya verifikasi independen terhadap setiap informasi yang beredar. Sebagai penutup, perkembangan ini menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah dan meningkatkan kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas.
Sumber: BBC



