Kenaikan paling signifikan terjadi pada Pertamina Dex (CN 53) yang melonjak dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per liter. Dexlite (CN 51) juga mengalami kenaikan dari Rp23.600 menjadi Rp26.000 per liter. Sementara itu, untuk bensin beroktan tinggi, Pertamax Turbo (RON 98) naik dari Rp19.400 menjadi Rp19.900 per liter.
Di sisi lain, beberapa jenis BBM masih dipertahankan. Pertamax (RON 92) tetap berada di harga Rp12.300 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) tidak berubah di Rp12.900 per liter. Adapun BBM bersubsidi seperti Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter.
Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan dengan mempertimbangkan harga keekonomian serta pergerakan pasar global. “Produk nonsubsidi pada prinsipnya mengacu pada harga pasar dan ketentuan yang berlaku,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Meski demikian, Pertamina menegaskan tetap memperhitungkan faktor nonbisnis, seperti daya beli masyarakat dan stabilitas nasional. Oleh karena itu, tidak semua produk mengalami kenaikan harga.
“Sebagian harga dipertahankan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan bisnis dan kepentingan nasional,” tambahnya.
Sementara itu, dari sisi makroekonomi, pemerintah menilai kondisi inflasi masih terkendali. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan inflasi April 2026 tercatat sebesar 0,13 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,42 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Menurutnya, tekanan inflasi mulai mereda seiring kebijakan pemerintah yang menjaga stabilitas, termasuk mempertahankan subsidi energi di tengah kenaikan harga minyak dunia. Ia menegaskan, jika subsidi BBM dicabut saat harga global masih tinggi, maka risiko lonjakan inflasi akan semakin besar dan berdampak langsung pada masyarakat.
Pemerintah pun memastikan kebijakan subsidi energi tetap dilanjutkan sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi nasional.
Reporter: Ilvan



