kabasurau.co.id: PADANG – Proyek rekonstruksi kawasan Gelanggang Olahraga (GOR) Haji Agus Salim di Kota Padang resmi dimulai. Seiring dimulainya pembangunan tersebut, para pedagang yang selama ini beraktivitas di kawasan GOR mulai membongkar lapak dan memindahkan perlengkapan usahanya. Namun, di tengah proses pengosongan area, sejumlah pedagang mengaku masih menunggu kepastian terkait lokasi relokasi yang akan digunakan selama proyek berlangsung.
Pengosongan kawasan dilakukan pada Rabu (17/6/2026) bersamaan dengan dimulainya pekerjaan pembangunan dan penataan ulang kompleks olahraga terbesar di Sumatera Barat tersebut. Selama masa pengerjaan proyek, kawasan GOR Haji Agus Salim ditutup untuk umum.
Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perdagangan di sekitar kawasan stadion. Mereka berharap pemerintah dapat memberikan jaminan dan kepastian terkait lokasi usaha pengganti agar roda perekonomian tetap berjalan.
Salah seorang pedagang mie ayam, Anto, mengatakan sosialisasi mengenai rencana pembangunan sebenarnya telah dilakukan sejak beberapa waktu lalu. Namun, informasi terkait lokasi relokasi baru diterima sebagian pedagang dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, banyak pedagang memilih menunda pembongkaran lapak karena masih menunggu informasi resmi mengenai tempat usaha sementara yang akan disediakan. Akibatnya, proses pemindahan baru ramai dilakukan pada hari pertama pengosongan kawasan.
Sejumlah pedagang diketahui diarahkan untuk menempati area di sekitar Lapangan Panjat Tebing dan depan Kolam Renang Teratai. Meski demikian, masih ada pedagang yang mengaku belum memperoleh informasi rinci mengenai lokasi relokasi tersebut.
Pedagang lainnya, Linda, yang telah berjualan lebih dari 20 tahun di kawasan GOR Haji Agus Salim, mengaku mulai membereskan perlengkapan usahanya setelah menerima informasi terkait relokasi. Ia menyebut lapak sementara yang disediakan memiliki ukuran sekitar tiga meter kali enam meter.
Meski telah mendapat gambaran mengenai lokasi baru, Linda mengaku belum mengetahui secara pasti besaran biaya yang akan dikenakan selama menempati lapak relokasi. Informasi yang diterima sejauh ini hanya menyebut kemungkinan adanya biaya kebersihan, air, dan keamanan.
"Kami berharap ada kepastian terkait seluruh mekanisme relokasi agar pedagang bisa menyesuaikan kebutuhan usaha selama masa pembangunan berlangsung," ujarnya.
Selain persoalan relokasi, para pedagang juga mengkhawatirkan potensi penurunan pendapatan akibat perpindahan lokasi usaha. Selama berjualan di kawasan GOR, Linda mengaku mampu memperoleh omzet harian berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung jumlah pengunjung.
Kekhawatiran serupa disampaikan Ijas, pedagang kuliner yang selama ini beroperasi di kawasan tersebut. Ia menilai keberadaan lokasi relokasi yang strategis dan layak menjadi faktor penting agar pelaku usaha kecil tetap dapat mempertahankan sumber penghasilan mereka.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur olahraga merupakan langkah yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas fasilitas publik. Namun, pemerintah juga diharapkan tetap memperhatikan keberlangsungan usaha para pedagang yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas ekonomi di kawasan GOR.
"Jika tidak ada tempat usaha pengganti yang memadai, banyak pedagang berpotensi kehilangan mata pencaharian yang selama ini menopang ekonomi keluarga," katanya.
Meski demikian, sebagian pedagang menyatakan dukungannya terhadap proyek renovasi GOR Haji Agus Salim. Mereka berharap pembangunan yang diperkirakan berlangsung sekitar satu tahun tersebut dapat menghadirkan kawasan olahraga yang lebih modern, tertata, nyaman, dan mampu menarik lebih banyak pengunjung.
Berdasarkan informasi yang beredar, puluhan pedagang pujasera akan direlokasi sementara selama proses pembangunan berlangsung. Para pedagang berharap pemerintah segera memastikan skema relokasi secara menyeluruh agar aktivitas usaha tetap berjalan tanpa mengganggu sumber penghasilan mereka selama masa rekonstruksi kawasan GOR Haji Agus Salim.
Reporter: Ilvan



