Perintah Memelihara Sunnah Dan Adabnya

473
Sunnah

Perintah Memelihara Sunnah Dan Adabnya

Sudah sepatutnya kita berpegang teguh pada apa yang diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah ﷺ baik berupa ucapan, perbuatan, maupun ketetapan. Rasulullah adalah suri teladan bagi siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir serta bagi yang banyak mengingat-Nya. Oleh karena itu, setiap jalan adalah buntu terkecuali yang telah dibuka oleh beliau atas perintah-Nya.

Allah berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ “…
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah….” (QS. Al-Hasyr [59]:7)

Dalam ayat ini Dia menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengerjakan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang Rasulullah. Karena, beliau hanya memerintahkan untuk berbuat kebaikan dan melarang dari berbuat keburukan. Terdapat hadits dari Nabi ﷺ yang menegaskan bahwa perintah Allah dikaitkan dengan adanya kemampuan diri dan ditinggalkannya larangan haruslah secara keseluruhan.

Pada hadits Abu Hurairah dalam kitab Shahihul Bukhan dan Shahih Muslim disebutkan bahwa beliau ﷺ bersabda:
( إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَمَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ))
“Apabila aku memerintahkan kalian untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian. Dan apa yang aku larang untuk kalian kerjakan, maka jauhilah ia (secara keseluruhan).”

Hadits ini menunjukkan bahwa kemampuan umat manusia untuk mengerjakan perintah nabi berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sedangkan dalam meninggalkan larangan, mereka pasti mampu menjauhi dan menghindarinya. Adapun ayat tersebut, intinya menunjukkan bahwasanya sunnah Rasulullah adalah hujjah (dalil).

Allah berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى
“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (al-Qur-an) menurut keinginannya. Tidak lain (al-Qur-an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 3-4)

Allah menjelaskan perihal Rasul-Nya (Muhammad); bahwa beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, akan tetapi berdasarkan perintah Rabbnya. Yakni agar disampaikan kepada umat manusia secara lengkap, tanpa ditambahkan maupun dikurangi. Ayat ini juga merupakan dalil bahwa sunnah Rasul termasuk wahyu Allah, hanya saja ia adalah wahyu yang tidak dibacakan (tidak seperti halnya al-Qur-an). Allah berfirman:
قُلۡ اِنۡ كُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوۡنِىۡ يُحۡبِبۡكُمُ اللّٰهُ وَيَغۡفِرۡ لَـكُمۡ ذُنُوۡبَكُمۡؕ‌ …. (۳۱) »

“Katakanlah (Muhammad): Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu….”” (QS. Ali Imran [3]: 31)

Ayat ini menetapkan bahwa siapa saja yang mengaku cinta kepada Allah namun tidak berjalan di jalan yang ditempuh Muhammad maka dia telah berdusta dalam pengakuannya itu, hingga benar-benar mengikuti syariat beliau yang mencakup ucapan dan perbuatan. Adapun siapa saja yang sudah dapat mengerjakan hal tersebut, maka dia telah sampai pada apa yang diharapkannya, yaitu cinta kepada Allah; bahkan akan terwujud cinta-Nya terhadap dirinya, dan kecintaan ini lebih agung daripada kecintaan yang pertama. Sebab secara hakikat Dia tidak perlu mencintai (para hamba-Nya), akan tetapi yang terpenting adalah Anda dicintai oleh-Nya.

Orang-orang yang mengaku mencintai Allah pasti akan diuji oleh-Nya dengan ayat ini. Dan, siapa saja yang dapat melalui ujian itu dalam keadaan mengikuti Rasulullah secara benar, pasti tercapailah olehnya berkah dari tindakannya mengikuti beliau, dan dia pun akan mendapatkan pengampunan dosa.. Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa sunnah Nabi adalah satu-satunya jalan yang akan dapat mengantarkan seorang hamba kepada Allah. Sedangkan selain sunnah Nabi , ia akan serta-merta menolak pelakunya.

Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ – ٢١
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat….” (QS. Al-Ahzâb [33]: 21)

Ayat ini merupakan dasar pokok yang mengharuskan kita untuk menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan baik dalam ucapan, perbuatan, ataupun segala kondisi beliau. Oleh karena itulah, Allah tabaraka wa ta’ala memerintahkan kepada umat ini (Muslimin) supaya meneladani Nabi saat terjadi Perang Ahzab-atau Perang Khandaq dalam kesabaran, ketangguhan, keteguhan, perjuangan, dan penantian beliau terhadap jalan keluar (berupa kemenangan) yang akan datang dari Allah; semoga shalawat dan salam-Nya selalu terlimpahkan kepada beliau sampai hari Kiamat. Oleh sebab itu, Allah berfirman kepada setiap Mukmin yang hatinya goncang dan goyah serta tidak stabil dalam menghadapi penderitaan pada waktu itu: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” Maka, apakah kita sudah mengikuti dan meneladani sifat dan perangai beliau?

Allah berfirman:
ا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا.
“Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 65)

Allah ta’ala bersumpah dengan menyebut diri-Nya sendiri, Yang Mahamulia lagi Mahasuci, bahwasanya tidaklah seseorang dianggap benar-benar telah beriman kepada Rabbnya sebelum dia menjadikan Rasulullah sebagai pemberi keputusan di dalam segala urusan. Apa yang menjadi keputusan beliau, maka itulah yang benar dan yang harus dipatuhi baik secara lahir ataupun batin. Jadi, seorang Muslim tidaklah boleh membiarkan dirinya berada dalam kesempitan, tetapi justru dia wajib berserah diri sepenuhnya tanpa penolakan dan penentangan.

Ketahuilah, hai hamba yang Muslim, bahwa tidaklah Allah tabaraka ma ta’ala bersumpah dengan menyebut diri-Nya sendiri yang mahamulia dan Dzat-Nya yang mahasuci melainkan di dua tempat di Kitab-Nya. Salah satunya ayat yang menerangkan masalah pengambilan putusan ini, sedangkan ayat kedua menerangkan masalah rezeki berikut:

وَفِى السَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ وَمَا تُوۡعَدُوۡنَ (22) فَوَرَبِّ السَّمَآءِ وَالۡاَرۡضِ اِنَّهٗ لَحَـقٌّ مِّثۡلَ مَاۤ اَنَّكُمۡ تَنۡطِقُوۡنَ(23)

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu: Maka demi Rabb langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan.”” (QS. Adz-Dzâriyât [51]: 22-23)

Dalam masalah sumpah ini terkandung berbagai ilmu dan macam pengetahuan yang tidak ada yang mengetahui kadar banyaknya kecuali Sang Pemberinya (Allah). Yang paling ringan darinya bagi seseorang yang dikaruniai kesempatan untuk memperhatikannya adalah bahwa penetapan hukum dan syariat merupakan hak Allah, sebagaimana rezeki merupakan hak bagi hamba. Dan, sebagaimana Rabb telah menciptakan serta memberimu rezeki, maka kewajiban kita adalah tunduk kepada hukum-Nya semata dan hanya mengikuti syariat-Nya serta mencintai agama-Nya saja.

Allah berfirman:

… Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah

Ayat-ayat di atas merupakan dasar pokok terkait kewajiban manusia untuk berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya serta berserah diri kepada syariat yang lurus baik secara lahir maupun batin.
…. فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول ….)
kepada Allah (al-Qur-an) dan Rasul (sunnahnya)…. “(QS. An-Nisa’ [4]: 59)

Para ulama menjelaskan bahwa maksudnya (yakni lafazh berikut: “maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul”) adalah kembali kepada al-Qur-an dan as-Sunnah. Ayat di atas sebagai dalil dan bukti konkret mengenai wajibnya mengembalikan setiap perselisihan yang terjadi di tengah-tengah manusia kepada Kitab Allah (al-Qur-an) dan sunnah Rasulullah.

Terdapat firman-Nya yang serupa:
وما أختلفتم فيه من شيء فحكمه إلى الله .
“Dan apa pun yang kamu perselisihkan padanya tentang sesuatu, keputusan nya (terserah) kepada Allah….” (QS. Asy-Syûrâ [42]: 10) Sehingga apa saja yang menjadi ketetapan al-Qur-an dan as-Sunnah,disertai persaksian dan pemahaman yang shahih, itulah yang haq (benar).Sungguh, tidak ada lagi sesudah yang haq (kebenaran) selain kesesatan.

Allah berfirman:
من يطع الرسول فقد أطاع الله …. )
“Barang siapa mentaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah mentaati Allah….” (QS. An-Nisa’ [4]: 80)

Allah menegaskan perihal hamba dan Rasul-Nya, Muhammad (terkait ketaatan dan kemaksiatan); yakni siapa saja yang mentaati beliau berarti telah mentaati Allah, dan siapa saja yang bermaksiat kepada beliau berarti telah bermaksiat kepada Allah. Yang demikian itu tidak lain disebabkan oleh perkataan beliau yang tidak didasarkan pada hawa nafsu, namun setiap perkataan beliau tidak lain adalah wahyu dari-Nya.

Sebagai penguat pernyataan tersebut, Rasulullah sendiri sebagaimana disebutkan di dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) dari Abu Hurairah-pernah bersabda:

أمن أطاعني فقد أطاع الله، ومن عصاني فقد عصى الله، ومن أطاع الأمير فهو أطاعني، ومن عصى الأمير فقد عصاني))

“Barang siapa mentaatiku berarti dia telah mentaati Allah, dan barang siapa mendurhakaiku berarti dia telah mendurhakai Allah. Barang siapa mentaati amir (penguasa) berarti dia telah mentaatiku, dan barang siapa mendurhakai amir berarti dia telah durhaka terhadapku.” Allah berfirman:

… وإنك لتهدى إلى صراط مستقيم (٥٢) صراط الله …. (۵۳) –

“… Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan Allah….” (QS. Asy-Syûrâ [42]: 52-53)

Di sini, Allah memberitahukan hakikat dakwah Rasulullah kepada kita. Beliau menyeru manusia ke jalan yang jelas lagi nyata dan penuh dengan kemudahan. Dan, itulah agama yang diridhai-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Maka Dia pun memerintahkan kepada mereka agar tetap teguh memeluk agama ini hingga ajal tiba. Agama itu tidak lain adalah Islam.

Allah berfirman:
…فليحذر الذين يخالفون عن أمروة أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم “…
maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takutakan mendapat cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nûr [24]: 63)

Dalam ayat ini Allah mengingatkan orang-orang yang menentang perintah Rasulullah, padahal itu adalah jalan, manhaj, cara, dan sunnah beliau. Maka, setiap ucapan dan perbuatan umat manusia akan ditimbang (pada hari Kiamat) sesuai dengan ucapan dan perbuatan beliau: apa yang sesuai dengannya pasti akan diterima, sedangkan yang menyelisihinya pasti akan ditolak; tidak peduli siapa pun pelakunya.

Oleh sebab itu, siapa saja yang menyelisihi atau menentang perintah tersebut secara lahir dan batin berarti dia bagaikan berada di mulut j kebinasaan; hatinya ditimpa syubhat kekufuran, kemunafikan, dan juga bid’ah; bahkan bisa saja orang itu diberi adzab yang pedih di dunia, yakni berupa had (hukuman yang dijatuhkan berdasarkan syariat Islam) atau penangkapan dan yang semisalnya. Sungguh, adzab akhirat itu (baginya kelak) pasti lebih pedih (daripada semua adzab dunia). jurang

Allah berfirman:
وأذكرت مايتلى في بيوتكن من ايت الله والحكمة .
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu)….” (QS. Al-Ahzâb [33]: 34)

Melalui ayat ini, Allah mengingatkan istri-istri Nabi-Nya akan nikmat yang dikhususkan untuk mereka di antara umat manusia, yaitu diturunkannya wahyu di rumah mereka.

Tidak sedikit ulama dari kalangan Salaf yang menafsirkan makna lafazh: “hikmah” pada ayat tersebut dengan sunnah Nabi. Demikianlah pendapat yang dinukil dari jumhur ulama; sebagaimana dikemukakan oleh Imam asy-Syafi’i di dalam kitabnya, ar-Risalah (hlm. 78): “Allah menyebutkan al-Kitab, yaitu al-Qur-an, dan al-Hikmah. Lantas aku mendengar dari salah seorang ulama yang aku ridhai bahwa makna al-Hikmah adalah as-Sunnah.”

Pernyataan di atas sesuai dengan apa yang biasa dinukilkan terkait penyebutan al-Qur-an yang diikuti penyebutan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah menyebutkan karunia-Nya atas semua makhluk yaitu berupa mengajarkan mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Maka itu, al-Hikmah di sini tidak boleh diartikan selain sunnah Rasulullah. Pendapat tersebut juga dikemukakan oleh jumhur ahli tafsir. Wallâhu a’lam.

===========================

Di Syarh Riyadush Shalihin bersama Buya Muhammad Elvi syam Lc. MA. Bab 16 :  perintah Memelihara Sunnah Dan Adabnya . Kajian Hari Rabu, 3 November 2021 di Masjid Al-Hakim.
Ditulis: Rahmat Ridho S.Ag | Editor: Muhammad Reza Pahlevi

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here