Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ads

Bencana Sumatera: Ketika Alam Menagih Janji yang Kita Ingkari



Oleh: Muhammad Okta Ilvan
(Opini — Kabasurau.co.id)


Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi Kabasurau.co.id


Bencana yang meratakan Sumatera dari Sumbar, Sumut, hingga Aceh, bukan sekadar rangkaian peristiwa alam. Ia adalah luka yang merayap ke tiap sudut negeri. Lebih dari seribu jiwa hilang atau berpulang; seolah satu kampung utuh padam dalam semalam.
Untuk semua keluarga yang ditinggalkan, doa dan duka paling dalam mengalir. Dan bagi para relawan yang bergerak tanpa menunggu aba-aba, kalian cahaya di tengah kelam.

Tapi setelah air surut, satu pertanyaan menggantung seperti asap tak mau hilang:
siapa yang harus bertanggung jawab?


Bencana yang Tidak Pernah Tiba-Tiba

Narasi klasik di TV selalu sama: ini bencana alam, ini murni takdir, ini karena siklon.
Sebagai orang beriman, kita percaya takdir. Tapi menuduh Tuhan setelah kita sendiri merusak rumah yang Ia titipkan adalah ironi terbesar abad ini.

Hujan ekstrem dan Siklon Senyar hanyalah pemicu.
Penyebab utamanya adalah tiga dekade perusakan hutan, pembiaran tata ruang, dan ekonomi yang makan ruang hidup sendiri.

Ini bukan musibah dadakan.
Ini bom waktu yang kita rakit pelan-pelan.


Harrison Ford Sudah Marah 12 Tahun Lalu

Pada 2013, Harrison Ford datang untuk syuting Years of Living Dangerously. Di Taman Nasional Tesso Nilo, yang seharusnya 81 ribu hektare hutan lindung, ia malah menemukan lautan sawit ilegal. Hutan asli yang tersisa? Kurang dari 12 ribu hektare.

Ford meledak. Videonya kembali viral.
Ironisnya, satu dekade kemudian, ketika banjir bandang meluluhlantakkan Sumatra, seorang pejabat—Bahlil Lahadalia—mengakui pernah terlibat bisnis yang berhubungan dengan penebangan hutan.

Semua ini bukan terjadi diam-diam. Kita hanya pura-pura tidak melihat.


Runoff Coefficient: Ilmu yang Tidak Bisa Diputar-Balik

Kenapa galaudo Sumatera begitu brutal?
Jawabannya sederhana, dan sains tidak bisa disuap:

  • Hutan asli: koefisien runoff 0,1–0,2
    100 liter hujan → 10–20 liter masuk sungai

  • Sawit/tambang: koefisien hingga 0,9
    100 liter hujan → 90 liter meluncur ke sungai

Ketika hutan hilang, debit air naik hingga sembilan kali lipat. Sungai mana yang sanggup?
Dan yang jatuh ke desa bukan sekadar air—tapi lumpur, batu, dan energi yang membawa maut.

Alam tidak peduli legal atau ilegal.
Ia hanya bereaksi.


Sawit Ilegal: 3,3 Juta Hektare di Kawasan Hutan

Audit BPKP:
3,3 juta hektare sawit berdiri di kawasan hutan secara non-prosedural.
Riau memegang rekor dengan 1,8 juta hektare.

Secara hukum, lahan itu seharusnya disita dan direstorasi.
Tapi pemerintah mengambil jalur “keterlanjuran”—pemutihan lewat UU Cipta Kerja pasal 110A dan 110B.

Perusahaan cukup bayar denda. Statusnya legal.
Alam? Tetap menangis dengan banjir.


Korupsi Sistemik di Balik Kerusakan

Walhi menggugat 47 perusahaan dengan dugaan korupsi dan kerusakan lingkungan senilai Rp437 triliun.
Modusnya:

  • konsesi di kawasan hutan,

  • revisi tata ruang untuk melegalkan pelanggaran,

  • sawit ilegal dapat amnesti,

  • pejabat kecipratan gratifikasi.

Ini bukan sekadar korupsi.
Ini state capture. Kebijakan negara disetir kepentingan korporasi.

Dan ketika masyarakat bertanya, jawabannya klise:
“Tapi sawit memberi kerja.”

Benar.
Tapi persoalannya selalu: di mana sawit itu ditanam?
Dan jawabannya sering: di hutan yang seharusnya tidak boleh diganggu.


Lalu, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Kalau gedung ambruk karena konstruksi buruk, ada kontraktor yang dipenjara.
Tapi kalau desa tertimbun karena hutan lindung digunduli—siapa pelakunya?

Seringnya: tidak ada.

Karena semuanya dibungkus frasa suci nan nyaman:
“Bencana alam.”
“Takdir.”

Inilah krisis terbesar kita:
korban ada, pelanggaran ada, tapi pelaku hilang.


Menghentikan Siklus Bodoh Ini

Jika kita serius ingin Sumatra berdiri lagi, langkahnya jelas:

  1. Stop pemutihan di zona merah.
    Hulu sungai dan lereng curam harus direstorasi total.

  2. Audit forensik kepemilikan lahan.
    Bongkar cukong yang bersembunyi di balik nama petani kecil.

  3. Manfaatkan karbon kredit dan nature-based solutions.
    Dunia butuh offset—Sumatra bisa jadi lokomotifnya.

  4. Patuh pada aturan anti-deforestasi global seperti EUDR.
    Ini bukan ancaman, tapi jalan untuk memperbaiki sistem dari dalam.


Penutup: Alam Tidak Pernah Lupa Utang

Harrison Ford mungkin hanya aktor.
Tapi amarahnya adalah cermin: perhitungan kita selama ini ngawur.

Kita memperlakukan alam sebagai aset yang bisa digadai kapan pun, padahal ia selalu menangis dan membalas dengan bunga yang menghancurkan.

Alam tidak pernah default.
Bencana Sumatra adalah tanda tangan dari tagihan itu.

Dan kini tugas kita bukan lagi sekadar berduka.

Kita harus berjaga.
Berubah.
Dan memastikan tragedi ini tidak menjadi bab berulang dalam sejarah negeri ini.

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Surau TV, Klik : WA Grup & Telegram Channel
Copyright © 2025 - Kabasurau.co.id | All Right Reserved