Menurut rilis resmi BMKG, gempa terjadi pada pukul 21.39 WIB dengan pusat hiposentrum berada di laut sekitar 66 kilometer tenggara Maumere. “Gempa dengan magnitudo 4,9 ini dirasakan masyarakat dengan skala III MMI,” ujar Bapak Agus Wijaya, Kepala Stasiun Geofisika Maumere, menjelaskan kepada wartawan di pos BMKG setempat pada malam yang sama. Getaran tersebut membuat beberapa warga terbangun dan keluar dari rumah untuk memastikan keselamatan diri.
Menurut data BMKG, guncangan skala III MMI diukur sebagai gempa yang terasa nyata di dalam rumah, namun jarang menyebabkan kerusakan bangunan. Ibuk Sinta Mariana, seorang warga Kelurahan Kota Baru, Maumere, menyampaikan pengalaman saat gempa terjadi. “Sekitar pukul 21.40, rumah sempat bergoyang dan saya langsung keluar kamar untuk memeriksa keluarga saya,” ujarnya sambil menggenggam pegangan pintu rumahnya.
Pihak BPBD Kabupaten Sikka bersama aparat desa setempat langsung menyiagakan petugas di titik–titik strategis untuk memastikan tidak ada dampak lanjutan dari gempa tersebut. Bapak Teddy Rahman, Kepala BPBD Kabupaten Sikka, menyampaikan bahwa tim tanggap darurat telah dikerahkan untuk memantau kondisi struktur bangunan dan fasilitas umum. “Kami menghimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti arahan resmi dari BMKG dan BPBD,” kata beliau melalui sambungan telepon.
Sebagai penutup, BMKG kembali menegaskan bahwa gempa bumi merupakan fenomena alam yang berpotensi berulang, terutama di daerah Indonesia bagian timur yang berada pada wilayah Ring of Fire. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan, memeriksa jalur evakuasi keluarga, serta mengamankan barang–barang yang mudah jatuh saat terjadi gempa guna meminimalkan risiko cedera.
Sumber: Kompas.com



