Menurut data pasar global, harga minyak mentah jenis Brent naik sekitar 2,51 persen, sementara minyak mentah AS (WTI) mencatat peningkatan lebih dari 2,77 persen dibandingkan harga penutupan sebelumnya. “Kenaikan harga ini bukan semata respons pasar terhadap permintaan global, tetapi juga dipicu oleh ketidakpastian geopolitik di kawasan tertentu,” ujar Bapak Hendri Santoso, analis energi dari lembaga riset pasar, Rabu sore di Jakarta.
Salah satu faktor yang dianggap memengaruhi pergerakan harga minyak adalah pergeseran kebijakan negara–negara produsen besar serta isu keamanan pasokan energi global. Aktivitas pasar minyak dalam beberapa hari terakhir mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan gangguan pasokan, terutama di kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi sumber utama produksi minyak dunia. “Kondisi geopolitik yang tidak menentu mendorong para pelaku pasar untuk mengamankan aset energi, sehingga permintaan kontrak minyak naik,” tambah Ibuk Diana Kusuma, ekonom energi independen.
Para pelaku industri energi global menyatakan bahwa kenaikan harga minyak dapat berdampak luas pada biaya produksi dan distribusi energi, yang selanjutnya dapat memengaruhi harga bahan bakar di pasar domestik tiap negara. Pihak regulator di sejumlah negara pun memantau dampak perubahan harga minyak ini terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi makro.
Sebagai penutup, pasar minyak dunia diprediksi akan tetap volatil dalam jangka pendek seiring dengan respons geopolitik dan kebijakan ekonomi negara–negara besar. Para analis menyarankan agar pemerintah dan pelaku industri terus melakukan mitigasi risiko serta memantau perkembangan pasar energi secara real time untuk mengantisipasi kemungkinan dampak lanjutan.
Sumber: CNBC Indonesia



