Dalam keterangannya di lokasi peninjauan, Bapak Dody Hanggodo menjelaskan bahwa sabo dam direncanakan untuk menahan aliran air dan material dari kawasan pegunungan. Aliran tersebut selama ini bermuara ke Kilometer 74, yang menjadi titik terputusnya jalan akibat banjir bandang. Pembangunan sabo dam diharapkan mampu mengurangi risiko kerusakan infrastruktur di masa mendatang.
Titik Kilometer 74 diketahui mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025. Peristiwa tersebut menyebabkan terhentinya akses transportasi dan mengganggu aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah menilai diperlukan pendekatan penanganan yang tidak hanya bersifat perbaikan, tetapi juga pencegahan.
Menurut Bapak Dody Hanggodo, kajian pembangunan sabo dam dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kondisi alam dan karakter aliran air. Infrastruktur pengendali sedimen ini menjadi bagian penting dalam sistem pengurangan risiko bencana. Pemerintah menekankan bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah rawan harus selalu disertai upaya mitigasi.
Melalui kajian ini, Kementerian PU berharap penanganan Jalan Malalak dapat dilakukan secara komprehensif. Pemerintah menargetkan agar infrastruktur yang dibangun tidak hanya memulihkan fungsi jalan, tetapi juga meningkatkan keamanan masyarakat. Dengan demikian, kejadian banjir bandang yang merusak akses vital diharapkan tidak terulang di masa depan.
Sumber: Humas Sumbar



