Dalam laporan yang diterima dari The Watchers pada Sabtu (10/1/2026), sejumlah gunung api menunjukkan aktivitas baru (new activity), salah satunya adalah Gunung Bur ni Telong di Indonesia. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat peningkatan seismicity sejak akhir Desember 2025, dengan gempa vulkanik yang intens dan berulang menandakan adanya tekanan magma yang meningkat di bawah permukaan gunung tersebut.
“Sejak akhir Desember, telah terdeteksi lonjakan gempa vulkanik baik yang dalam maupun dangkal di bawah Gunung Bur ni Telong, menunjukkan bahwa tekanan magma semakin berkembang,” ungkap Bapak Agus Santoso, ahli vulkanologi dari PVMBG, saat dihubungi pada Senin lalu di Yogyakarta. Aktivitas tersebut turut mendorong pemerintah setempat menaikkan tingkat alert level menjadi level III dan menetapkan zona aman radius minimal 4 kilometer dari kawah aktif.
Selain itu, laporan juga mencatat bahwa beberapa gunung api Indonesia lainnya masih menunjukkan aktivitas yang berkelanjutan (ongoing activity), termasuk Gunung Marapi di Provinsi Sumatera Barat. Menurut PVMBG, Marapi tetap berada pada status level 2 yang berarti Waspada, dengan semburan abu vulkanik yang teramati mencapai ratusan meter di atas puncak pada beberapa kejadian dalam periode tersebut.
“Aktivitas di Marapi masih berlangsung dengan pelepasan abu vulkanik dari waktu ke waktu, ini menunjukkan bahwa gunung tersebut masih dalam fase aktif yang perlu terus dipantau,” ujar Bapak Dedi Riyanto, koordinator Pos Pengamatan Gunung Api Marapi. Pemantauan intensif dilakukan oleh tim PVMBG bersama warga sekitar untuk deteksi dini perubahan aktivitas.
Selain Bur ni Telong dan Marapi, beberapa gunung lain seperti Ibu di Halmahera juga tercatat mengalami aktivitas erupsi, dengan kolom abu yang terlihat melayang beberapa ratus meter di atas puncaknya. Catatan ini menunjukkan bahwa kondisi vulkanik Indonesia di awal 2026 masih cukup dinamis, sehingga potensi risiko bagi masyarakat sekitar masih tetap ada.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi terus mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api berstatus Waspada atau lebih tinggi untuk tetap memantau perkembangan melalui kanal resmi seperti aplikasi MAGMA Indonesia serta mematuhi batas aman yang telah ditetapkan. “Jangan mendekati zona bahaya, terutama saat kondisi cuaca buruk yang bisa memperburuk situasi pukulan abu atau lontaran material,” pesan PVMBG dalam keterangan resminya.
Laporan aktivitas vulkanik mingguan ini disusun dari data yang dihimpun oleh berbagai lembaga vulkanologi di dunia, termasuk PVMBG di Indonesia, dan menjadi acuan bagi pemerintah serta masyarakat dalam menghadapi kemungkinan bencana vulkanik di masa mendatang.
Sumber: CNN Indonesia



