Panen jagung serentak digelar di lahan seluas dua hektare yang merupakan bagian dari kelompok tani setempat. Jagung yang dipanen berasal dari tanaman yang ditanam beberapa bulan lalu, dan merupakan hasil kerja bersama antara petani dan pihak kepolisian dalam program ketahanan pangan yang diperkuat sejak musim tanam sebelumnya.
“Kegiatan panen jagung ini kita laksanakan secara serentak sebagai bentuk dukungan terhadap ketahanan pangan masyarakat di Pasaman Barat,” ujar Bapak AKBP Agung Tribawanto, Kepala Polres Pasaman Barat, saat meninjau lokasi panen di Bandarejo, Nagari Lingkungan Aua, Kamis. Menurutnya, kegiatan ini penting untuk memastikan supply pangan tetap stabil pascabisnis dan cuaca ekstrem yang menekan distribusi bahan pangan di awal tahun.
Panen jagung tersebut mendapat sambutan positif dari petani dan tokoh masyarakat setempat. Bapak Ridwan, salah seorang petani yang ikut dalam panen, mengatakan bahwa dukungan teknis dari Polres dan aparat keamanan membantu petani untuk menyelesaikan musim tanam dengan hasil yang memuaskan. “Kami berharap hasil panen ini dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di sini,” ujarnya di sela kegiatan panen.
Selain dimaknai sebagai ajang panen hasil tani, kegiatan serentak ini juga menjadi momentum bagi aparat dan petani untuk memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas pangan di Kabupaten Pasaman Barat. Kegiatan semacam ini diharapkan dapat terus dilakukan di masa mendatang untuk mengantisipasi fluktuasi pasokan pangan akibat gangguan cuaca serta tantangan distribusi di daerah pedalaman.
Kepala Polres Pasaman Barat menambahkan bahwa kegiatan panen jagung serentak ini menjadi bagian dari program Polri Peduli Pangan yang diinisiasi oleh Kepolisian Republik Indonesia di sejumlah wilayah terdampak bencana maupun daerah rawan pangan lainnya. Program ini dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas pertanian skala lokal.
Dengan terlaksananya panen jagung serentak di Pasaman Barat, diharapkan ketahanan pangan di tingkat masyarakat dapat semakin kuat, terutama di tengah dinamika kebutuhan pascabanjir dan tantangan cuaca yang masih berlangsung di awal tahun 2026.
Sumber: RRI



