Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ads

Rusia dan China Kecam Penangkapan Presiden Venezuela oleh AS, Peringatkan Dampak Global

Kabasurau.co.id: Padang — Rusia dan China menyampaikan kecaman keras terhadap tindakan Amerika Serikat (AS) yang menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela, Bapak Nicolas Maduro. Pemerintah kedua negara menilai langkah yang diperintahkan Presiden AS Bapak Donald Trump tersebut sebagai tindakan sepihak yang melanggar hukum internasional dan mengancam stabilitas global. Pernyataan resmi disampaikan pada Senin (5/1/2026), menyusul konfirmasi Washington atas operasi militer yang dilakukan di Caracas pada akhir pekan lalu.

Pemerintah Rusia melalui Kementerian Luar Negeri di Moskow menuduh AS telah melakukan agresi bersenjata terhadap negara berdaulat. Dalam pernyataan pers yang disampaikan di Moskow pada Senin (5/1/2026), Kemenlu Rusia menegaskan bahwa pembenaran AS atas serangan tersebut tidak dapat diterima. “Sangat mengkhawatirkan dan pantas dikutuk. Diplomasi telah ditinggalkan demi penggunaan kekuatan,” demikian pernyataan resmi Kemenlu Rusia yang dikutip dari sejumlah media asing, termasuk The Moscow Times dan NHK, pada hari yang sama.

Rusia menilai serangan tersebut bukanlah insiden terisolasi, melainkan preseden berbahaya yang berpotensi memicu eskalasi konflik lebih luas. Pemerintah Presiden Bapak Vladimir Putin memperingatkan bahwa peningkatan ketegangan dapat membawa konsekuensi regional dan global yang serius. “Sangat penting untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan memfokuskan upaya pada pencarian solusi melalui dialog,” tegas Kemenlu Rusia dalam pernyataan yang dikeluarkan di Moskow itu.

Selain mengecam, Rusia juga menyatakan solidaritasnya kepada rakyat Venezuela. Moskow menegaskan bahwa Venezuela harus dijamin haknya untuk menentukan masa depan politiknya sendiri tanpa campur tangan eksternal yang bersifat merusak, khususnya intervensi militer. Hubungan Rusia dan Venezuela diketahui cukup erat, termasuk pembicaraan telepon antara Presiden Bapak Vladimir Putin dan Presiden Bapak Nicolas Maduro pada Desember lalu, di mana Rusia kembali menegaskan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah Venezuela.

Sikap senada disampaikan pemerintah China. Melalui pernyataan Kementerian Luar Negeri di Beijing pada Senin (5/1/2026), China mendesak AS untuk segera menghentikan apa yang disebutnya sebagai upaya “penggulingan” pemerintah Venezuela. “China menyerukan AS untuk memastikan keselamatan pribadi Presiden Bapak Nicolas Maduro dan istrinya, Ibuk Cilia Flores, segera membebaskan mereka, dan menghentikan upaya penggulingan pemerintah Venezuela,” demikian pernyataan resmi Kemenlu China yang dimuat kantor berita AFP pada hari yang sama.

China menilai penangkapan Presiden Venezuela merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional. Pemerintah Presiden Bapak Xi Jinping menegaskan bahwa kedaulatan negara dan prinsip non-intervensi harus dihormati oleh seluruh komunitas internasional. Beijing juga mengingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer hanya akan memperburuk krisis dan memperbesar penderitaan warga sipil.

Sebelumnya, Presiden Bapak Nicolas Maduro ditangkap oleh unit kontra-terorisme utama militer AS, Delta Force, pada Sabtu dini hari. Operasi tersebut dilaporkan melibatkan lebih dari 150 pesawat yang digunakan untuk mengangkut tim evakuasi ke Caracas, dengan serangan udara di sekitar ibu kota disebut sebagai kedok operasi. Presiden Bapak Donald Trump dalam pernyataannya menyebutkan tidak ada pasukan AS yang tewas dan hanya terdapat “sedikit” korban luka selama operasi berlangsung.

Maduro dan istrinya, Ibuk Cilia Flores, kemudian dibawa ke kapal USS Iwo Jima sebelum diterbangkan ke Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart di New York, dan selanjutnya dipindahkan ke Pusat Penahanan Metropolitan di Brooklyn. Di Caracas, Menteri Pertahanan Venezuela Bapak Vladimir Padrino menyatakan dalam siaran televisi pemerintah bahwa sebagian besar tim keamanan Presiden serta tentara dan warga sipil tewas, meski tanpa merinci jumlah korban. Sementara itu, Wakil Presiden Venezuela Ibuk Delcy Rodríguez telah dilantik Mahkamah Agung sebagai presiden sementara, di tengah situasi politik dan keamanan yang masih tegang.

Dengan meningkatnya reaksi internasional atas peristiwa ini, komunitas global kini menyoroti risiko eskalasi konflik yang lebih luas. Rusia dan China menegaskan kembali pentingnya penyelesaian melalui dialog dan penghormatan terhadap hukum internasional. Perkembangan situasi Venezuela selanjutnya diperkirakan akan terus menjadi perhatian utama dunia dalam beberapa waktu ke depan.

Sumber: CNBC Indonesia 
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Surau TV, Klik : WA Grup & Telegram Channel
Copyright © 2025 - Kabasurau.co.id | All Right Reserved