Menurut data terbaru yang dirilis, sebanyak 17 orang telah dipastikan meninggal dunia akibat longsor tersebut, dan operasi pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan bersama aparat setempat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa upaya evakuasi kini melibatkan lebih dari 2.100 personel, termasuk relawan, aparat TNI/Polri, serta unsur Basarnas yang menggunakan peralatan berat, drone, dan pompa air untuk mencapai lokasi terdampak.
Salah satu aspek yang menambah kompleksitas kejadian ini adalah keterlibatan anggota Korps Marinir TNI Angkatan Laut, di mana 23 orang personel marinir dilaporkan berada di lokasi saat kejadian. Kepala Staf Angkatan Laut, Bapak Laksamana Muda Muhammad Ali, menyatakan bahwa dari jumlah tersebut, empat marinir telah ditemukan meninggal, sementara sisanya masih dalam pencarian intensif oleh tim SAR. Marinir-marinir tersebut sedang menjalani latihan di kawasan perbukitan saat longsor terjadi.
Kapusdatin BNPB menjelaskan bahwa tanah longsor menimpa camp serta rumah warga di lereng Gunung Burangrang pada Sabtu dini hari (24/1/2026). Kondisi tanah yang jenuh air akibat hujan deras yang terjadi sejak Jumat malam diperkirakan menjadi pemicu utama runtuhkan tanah dan material ke permukiman di bawahnya. Aktivitas pencarian terkendala medan yang tidak stabil serta akses jalan yang sempit, sehingga operasi SAR hanya dapat dilakukan secara manual di beberapa titik.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan setempat, Bapak Ade Dian Permana, mengatakan bahwa kondisi medan yang berlumpur dan bercampur air telah membatasi kemampuan tim untuk menembus beberapa area terdampak. Dia menambahkan bahwa operasi akan terus berlanjut setiap pagi dengan memperhatikan faktor keselamatan bagi para petugas yang terlibat.
Pemerintah daerah Kabupaten Bandung Barat telah menetapkan status emergency response dan mengerahkan seluruh sumber daya untuk mendukung operasi evakuasi dan pelayanan darurat bagi keluarga korban. Di lokasi kejadian, warga setempat serta relawan terlihat memberikan bantuan logistik, makanan, dan air minum untuk mendukung keberlangsungan proses pencarian.
Sementara itu, masyarakat di sekitar wilayah perbukitan di Jawa Barat diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan longsor lanjutan, terutama jika hujan deras kembali mengguyur wilayah tersebut. BPBD setempat juga memperbaharui peringatan dini cuaca dan potensi bahaya kepada warga yang tinggal di kaki bukit dan daerah rawan tanah longsor demi menekan kemungkinan korban jiwa lebih lanjut.
Peristiwa ini mencerminkan krisis bencana alam berulang yang terjadi di Indonesia pada awal tahun 2026, di mana hujan ekstrem dan kondisi tanah yang tidak stabil terus memicu longsor dan banjir di berbagai wilayah, termasuk Pulau Jawa dan Sumatra.
Sumber: Detik.com



