Berdasarkan data pasar valuta asing dan laporan pelaku industri keuangan, penguatan rupiah terjadi seiring meredanya tekanan eksternal dan meningkatnya minat investor terhadap aset negara berkembang. Sejumlah analis menilai, pergerakan ini juga didorong oleh optimisme terhadap kinerja ekspor dan stabilitas inflasi dalam negeri. Aktivitas transaksi di pasar uang pada pagi hari berlangsung dinamis dengan volume perdagangan yang cukup tinggi.
Gubernur Bank Indonesia, Bapak Perry Warjiyo, dalam keterangan pers yang disampaikan di Jakarta pada Senin siang sekitar pukul 11.30 WIB, menyatakan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas otoritas moneter. “Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi terukur di pasar valas serta optimalisasi instrumen moneter untuk menjaga keseimbangan supply dan demand,” ujar Bapak Perry dalam suasana konferensi pers yang berlangsung di Gedung Bank Indonesia.
Bapak Perry menambahkan bahwa koordinasi dengan pemerintah terus diperkuat guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Menurutnya, sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor. Ia juga menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang cukup solid.
Sementara itu, sejumlah pelaku pasar memperkirakan pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi sentimen global, termasuk kebijakan suku bunga bank sentral AS dan perkembangan geopolitik. Meski demikian, prospek jangka menengah dinilai tetap positif selama stabilitas domestik terjaga. Pemerintah dan otoritas keuangan berkomitmen menjaga momentum penguatan tersebut demi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Sumber: CNBC Indonesia



