Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ads

Dampak Konflik Timur Tengah Untuk Indonesia Kedepannya, ini kata bapak SBY

Kabasurau.co.id: JAKARTA — Presiden ke-6 Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, mengingatkan pemerintah dan masyarakat mengenai potensi dampak serius konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian nasional. Peringatan tersebut disampaikan dalam podcast bertajuk SBY Standpoint: War in the Middle East: Who Will Win? yang disiarkan pada Selasa, 3 Maret 2026. Dalam suasana diskusi yang berlangsung tenang dan reflektif, beliau menekankan risiko lonjakan harga minyak dunia terhadap stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dalam pemaparannya, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan bahwa Indonesia saat ini bukan lagi negara pengekspor minyak, melainkan telah menjadi net importir. Ia menyebut produksi minyak nasional kini berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Angka tersebut, menurut beliau, jauh menurun dibandingkan tahun 1999 ketika produksi masih mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari saat dirinya menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Beliau menegaskan bahwa perubahan struktur produksi energi tersebut membuat Indonesia semakin rentan terhadap gejolak harga minyak global. Ketika harga minyak mentah dunia meningkat tajam akibat gangguan pasokan, beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN otomatis akan membengkak. Pemerintah, kata beliau, harus menutup selisih antara harga pasar internasional dan asumsi harga minyak dalam APBN yang saat ini dipatok sekitar 70 dolar Amerika Serikat per barel.

“Nah ketika naik harga per barrelnya, maka negara harus mengeluarkan uang yang banyak untuk menomboki, karena APBN kita kan hanya 70 dolar per barrel,” ujar Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dalam podcast tersebut. Pernyataan itu disampaikan dengan nada serius sambil menjelaskan konsekuensi fiskal yang dapat terjadi apabila konflik di Timur Tengah mengganggu distribusi energi global. Menurut beliau, dampak tersebut bersifat langsung dan akan segera terasa pada postur keuangan negara.

Lebih lanjut, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan bahwa apabila harga minyak mentah dunia menembus kisaran 100 hingga 150 dolar Amerika Serikat per barel, tekanan terhadap fiskal negara akan semakin berat. Ia menyebut potensi defisit anggaran dapat mencapai ratusan triliun rupiah apabila lonjakan harga tersebut berlangsung dalam periode yang cukup lama. “Kalau tembus 100 dolar, 150 dolar, defisit kita ratusan triliun. Ini yang langsung, karena disruption pasokan energi akibat perang di Timur Tengah,” ujarnya.

Beliau juga menyoroti pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dalam mengantisipasi ketidakpastian global yang dipicu dinamika geopolitik. Konflik di kawasan produsen minyak utama dunia secara historis memang berdampak signifikan terhadap fluktuasi harga energi internasional. Indonesia sebagai negara pengimpor bersih minyak mentah dinilai memiliki sensitivitas tinggi terhadap setiap kenaikan harga di pasar global.

Di akhir pernyataannya, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mengajak pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber energi dan peningkatan produksi dalam negeri. Ia menilai langkah strategis tersebut penting guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah. Dengan kebijakan yang terukur dan responsif, Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas fiskal serta meminimalkan dampak gejolak energi global terhadap perekonomian nasional.

Sumber: akun YouTube SBY

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Surau TV, Klik : WA Grup & Telegram Channel
Copyright © 2025 - Kabasurau.co.id | All Right Reserved