Dalam pemaparannya, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan bahwa Indonesia saat ini bukan lagi negara pengekspor minyak, melainkan telah menjadi net importir. Ia menyebut produksi minyak nasional kini berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Angka tersebut, menurut beliau, jauh menurun dibandingkan tahun 1999 ketika produksi masih mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari saat dirinya menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Beliau menegaskan bahwa perubahan struktur produksi energi tersebut membuat Indonesia semakin rentan terhadap gejolak harga minyak global. Ketika harga minyak mentah dunia meningkat tajam akibat gangguan pasokan, beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN otomatis akan membengkak. Pemerintah, kata beliau, harus menutup selisih antara harga pasar internasional dan asumsi harga minyak dalam APBN yang saat ini dipatok sekitar 70 dolar Amerika Serikat per barel.
“Nah ketika naik harga per barrelnya, maka negara harus mengeluarkan uang yang banyak untuk menomboki, karena APBN kita kan hanya 70 dolar per barrel,” ujar Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dalam podcast tersebut. Pernyataan itu disampaikan dengan nada serius sambil menjelaskan konsekuensi fiskal yang dapat terjadi apabila konflik di Timur Tengah mengganggu distribusi energi global. Menurut beliau, dampak tersebut bersifat langsung dan akan segera terasa pada postur keuangan negara.
Lebih lanjut, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan bahwa apabila harga minyak mentah dunia menembus kisaran 100 hingga 150 dolar Amerika Serikat per barel, tekanan terhadap fiskal negara akan semakin berat. Ia menyebut potensi defisit anggaran dapat mencapai ratusan triliun rupiah apabila lonjakan harga tersebut berlangsung dalam periode yang cukup lama. “Kalau tembus 100 dolar, 150 dolar, defisit kita ratusan triliun. Ini yang langsung, karena disruption pasokan energi akibat perang di Timur Tengah,” ujarnya.
Beliau juga menyoroti pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dalam mengantisipasi ketidakpastian global yang dipicu dinamika geopolitik. Konflik di kawasan produsen minyak utama dunia secara historis memang berdampak signifikan terhadap fluktuasi harga energi internasional. Indonesia sebagai negara pengimpor bersih minyak mentah dinilai memiliki sensitivitas tinggi terhadap setiap kenaikan harga di pasar global.
Di akhir pernyataannya, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mengajak pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber energi dan peningkatan produksi dalam negeri. Ia menilai langkah strategis tersebut penting guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah. Dengan kebijakan yang terukur dan responsif, Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas fiskal serta meminimalkan dampak gejolak energi global terhadap perekonomian nasional.
Sumber: akun YouTube SBY



