Jumlah tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di kisaran US$ 434,9 miliar. Secara tahunan (year on year), utang luar negeri Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,5 persen, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa peningkatan utang luar negeri terutama berasal dari sektor publik, yakni pemerintah dan bank sentral. Hal ini seiring dengan meningkatnya kebutuhan pembiayaan untuk mendukung program pembangunan nasional serta masuknya aliran modal asing ke instrumen keuangan domestik.
Dari sisi komposisi, utang luar negeri pemerintah tercatat sebesar US$ 215,9 miliar atau tumbuh 5,5 persen secara tahunan. Sementara itu, utang luar negeri sektor swasta mengalami penurunan terbatas, sehingga tidak memberikan tekanan signifikan terhadap total utang secara keseluruhan.
Lebih lanjut, Bank Indonesia menilai struktur utang luar negeri Indonesia masih relatif aman. Hal ini tercermin dari dominasi utang jangka panjang yang mencapai hampir seluruh total utang pemerintah, sehingga dinilai lebih stabil terhadap gejolak ekonomi global.
Selain itu, rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di kisaran 29,8 persen. Angka tersebut masih dalam batas aman dan menunjukkan kemampuan Indonesia dalam mengelola kewajiban utangnya.
Meski demikian, kenaikan utang tetap menjadi perhatian di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu. Pengelolaan utang yang hati-hati dan produktif dinilai penting agar tidak menjadi beban fiskal di masa mendatang.
Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas utang luar negeri serta memastikan penggunaannya tetap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Sumber: Tempo Media



