Kabasurau.co.id: Agam — Bencana banjir bandang atau galodo kembali melanda wilayah Malalak Timur, Kabupaten Agam, dan menyebabkan dua warga meninggal dunia serta satu orang dinyatakan hilang. Peristiwa ini terjadi pada Kamis (27/11/2025) dan mengakibatkan kondisi di lapangan berada pada status darurat. Warga terdampak kini membutuhkan penanganan cepat dari berbagai pihak.
Camat Malalak, Ibuk Ulya Satar, membenarkan informasi terkait jatuhnya korban jiwa di Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur. “Tercatat dua warga meninggal dunia, sementara satu orang lainnya masih dalam pencarian oleh tim gabungan,” ujar Ibuk Ulya saat memberikan keterangan di lokasi pengungsian pada Kamis siang. Ia menyampaikan bahwa upaya pencarian terhadap satu korban hilang masih terus dilakukan meskipun kondisi medan cukup berat.
Menurut Ibuk Ulya, situasi di lapangan hingga saat ini masih sangat darurat. Ia menegaskan bahwa masyarakat terdampak sangat membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. “Masyarakat terdampak membutuhkan bantuan segera seperti makanan siap saji, selimut, obat-obatan, dan layanan kesehatan,” ungkapnya saat mendampingi warga yang baru dievakuasi. Pemerintah kecamatan berharap bantuan cepat dari dinas terkait agar penanganan dapat berjalan optimal.
Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam telah mengevakuasi ratusan kepala keluarga yang terdampak galodo di Malalak Timur. Kepala Pelaksana BPBD Agam, Bapak Rahmad Lasmono, mengonfirmasi bahwa sebanyak 135 kepala keluarga telah dipindahkan ke lokasi pengungsian. “Hingga Rabu malam, 135 KK mengungsi akibat galodo di Malalak Timur,” ujar Bapak Rahmad pada Kamis (27/11/2025) saat memantau salah satu titik evakuasi.
Empat lokasi pengungsian kini aktif menampung warga terdampak, yakni Masjid Nurul Falah Limo Badak, Masjid Nurul Sa’adah Jorong Saskand, Masjid Nurul Iman Jorong Bukik Malanca, serta SDN 01 Campago. Seluruh pengungsi mendapatkan layanan darurat berupa makanan, fasilitas istirahat, dan pemeriksaan kesehatan awal. Kondisi cuaca yang tak menentu membuat warga lebih memilih bertahan di pengungsian.
BPBD Agam bersama perangkat kecamatan, TNI–Polri, relawan, serta masyarakat terus melakukan pemantauan terhadap debit air sungai di sekitar kawasan terdampak. Upaya ini dilakukan untuk mencegah risiko galodo susulan yang berpotensi mengancam keselamatan warga. Selain itu, tim gabungan juga masih melanjutkan operasi pencarian terhadap satu korban hilang.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. Seluruh instansi terkait kini tengah memperkuat koordinasi untuk memastikan penanganan bencana berjalan cepat dan tepat demi keselamatan warga.






