Apresiasi itu disampaikan Bapak Mahyeldi Ansharullah saat melakukan peletakan batu pertama pembangunan Surau Bambu Talang di kawasan Huntara Kampung Talang, Senin (19/1/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, yang sebelumnya mengalami kerusakan cukup parah akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025. Suasana kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan, dengan dihadiri unsur pemerintah, aparat kewilayahan, relawan, serta masyarakat setempat.
Dalam keterangannya di lokasi kegiatan, Bapak Mahyeldi Ansharullah menilai pembangunan huntara dan surau secara swadaya merupakan wujud pemulihan yang mengedepankan kebersamaan, kemandirian, dan kearifan lokal. Ia menyebut masyarakat memanfaatkan material yang tersedia di sekitar lingkungan, seperti kayu, asbes, dan bambu, sehingga proses pembangunan dapat dilakukan secara cepat dan efisien. “Kami sangat bangga dan bersyukur karena warga Kampung Talang berperan aktif membangun huntara, bekerja sama dengan TNI, relawan dari berbagai lembaga, serta mahasiswa,” ujar Bapak Mahyeldi saat memberikan sambutan.
Gubernur Sumbar juga menyoroti penggunaan bambu sebagai material utama pembangunan surau yang dinilai sarat dengan nilai simbolik dan budaya. Menurutnya, pemanfaatan bambu tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menunjukkan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan kondisi alam sekitarnya. “Penggunaan bambu pada surau ini menunjukkan bahwa kearifan lokal tetap relevan dalam proses pemulihan pascabencana dan menyatu dengan lingkungan,” kata Bapak Mahyeldi Ansharullah pada kesempatan tersebut.
Diketahui, Huntara Mandiri Kampung Talang berlokasi di RT 03 RW 04 Kelurahan Kapalo Koto dan berdiri di atas lahan seluas sekitar tiga hektare. Huntara tersebut mampu menampung sebanyak 10 kepala keluarga yang terdampak langsung oleh banjir bandang di kawasan tersebut. Keberadaan huntara ini diharapkan dapat memberikan tempat tinggal sementara yang aman dan layak bagi warga sambil menunggu solusi hunian jangka panjang dari pemerintah.
Sementara itu, perwakilan Kelompok Pecinta Alam (KPA) Bias, Bapak Khalid Syaifullah, menjelaskan bahwa pembangunan huntara dan surau bambu merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Ia menyampaikan keterangan tersebut di sela-sela kegiatan peletakan batu pertama Surau Bambu Talang, Senin (19/1/2026). “Kami bersama warga, TNI, mahasiswa, dan relawan berupaya menghadirkan hunian sementara yang layak sekaligus sarana ibadah yang memiliki nilai sosial dan budaya,” ujar Bapak Khalid.
Bapak Khalid Syaifullah menambahkan, penamaan Surau Bambu Talang diambil dari material utama yang digunakan, yakni bambu yang sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar lokasi huntara. Ia berharap surau tersebut dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus ruang interaksi sosial bagi warga terdampak. Keberadaan huntara dan surau bambu ini diharapkan mampu menumbuhkan kembali kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Kampung Talang pascabencana.
Kegiatan peletakan batu pertama pembangunan Surau Bambu Talang turut dihadiri Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Provinsi Sumbar, Camat Pauh, Lurah Kapalo Koto, Babinsa Pauh, tokoh masyarakat, serta para penghuni Huntara Kampung Talang. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat dalam proses pemulihan pascabencana. Dengan semangat gotong royong yang terus terjaga, pemerintah berharap proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.
Sumber: Humas Sumbar



