Menurut data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per 30 Desember 2025, sebanyak 4.149 satuan pendidikan di ketiga provinsi terdampak banjir dan longsor. Dari jumlah itu, 3.508 sekolah telah dinyatakan siap beroperasi kembali, sementara 587 sekolah masih dalam proses pembersihan, dan 54 sekolah melaksanakan pembelajaran di tenda darurat.
“Kami mencoba memastikan sekolah-sekolah terdampak tetap melaksanakan proses pembelajaran semester genap mulai 5 Januari 2026, meskipun kondisi fasilitas belum sepenuhnya pulih,” ujar Bapak Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam rapat koordinasi di Jakarta.
Di Provinsi Aceh, kegiatan belajar mengajar mulai berjalan kembali pada Senin (5/1) meskipun banyak sekolah masih dibersihkan dari lumpur dan material pascabencana. Di SD Negeri 1 Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, para siswa terlihat mengikuti pelajaran di kelas yang masih dalam proses pemulihan.
Walaupun begitu, beberapa daerah masih belum sepenuhnya siap. Menurut laporan Kemendikdasmen, 15 kota dan kabupaten di Aceh tetap menutup sekolah yang belum aman, sementara di Sumatera Utara dua wilayah masih melakukan pembelajaran terbatas karena fasilitas yang rusak berat. Di Sumatera Barat, sebagian besar sekolah sudah kembali beroperasi, namun sekitar 93 sekolah di Kabupaten Agam masih fokus pada pemulihan.
Masih di Aceh, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Bapak Atip Latipulhayat, menjelaskan bahwa dari 2.756 sekolah terdampak di provinsi itu, sekitar 90 persen telah siap melaksanakan pembelajaran. Namun sekitar 283 sekolah lainnya masih memerlukan proses pembersihan lanjutan yang ditargetkan selesai pada akhir Januari 2026.
Selain itu, berbagai upaya pemulihan juga dilakukan oleh sejumlah pihak. PT Bank Negara Indonesia (BNI) melakukan pembersihan lumpur di sekolah-sekolah terdampak di Aceh Utara sebagai dukungan terhadap kelancaran aktivitas pendidikan pascabencana. Okki Rushartomo, Corporate Secretary BNI, menyatakan bahwa pembersihan tersebut ditujukan agar sekolah dapat pulih lebih cepat sehingga kegiatan belajar mengajar kembali lancar.
Tidak hanya pembersihan fasilitas, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) membangun 23 lokal kelas darurat di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, untuk mempercepat proses pembelajaran di sekolah-sekolah yang terdampak. Langkah ini diharapkan dapat menjadi solusi sementara bagi anak-anak yang belum dapat kembali ke gedung kelas utama.
Upaya lain di lapangan termasuk pendirian tenda darurat, penggabungan kelas, dan dukungan bahan ajar sementara guna menjaga hak belajar siswa terdampak bencana. Pendekatan pembelajaran darurat ini mencerminkan prioritas pemerintah untuk memastikan pendidikan berjalan meskipun menghadapi situasi darurat dan keterbatasan infrastruktur.
Dengan berbagai langkah pemulihan yang terus berlangsung, pemerintah dan mitra kemanusiaan berkomitmen untuk mempercepat rekonstruksi fasilitas pendidikan pascabencana serta menjamin bahwa proses belajar mengajar di daerah terdampak dapat kembali sepenuhnya normal.
Sumber: Detik.com



