Kabasurau.co.id: New York — Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengesahkan sebuah resolusi yang mendesak Iran untuk segera menghentikan serangan terhadap sejumlah negara di kawasan Teluk. Keputusan tersebut diambil dalam sidang resmi Dewan Keamanan pada 11 Maret 2026 dengan dukungan 13 dari 15 anggota. Sementara itu, Rusia dan China memilih untuk abstain dalam proses pemungutan suara yang berlangsung di markas besar PBB, New York.
Resolusi yang diajukan oleh Bahrain itu secara tegas mengecam serangan rudal dan drone yang dilakukan oleh Iran terhadap sejumlah negara di kawasan. Negara-negara yang disebut dalam dokumen tersebut meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, serta Yordania. Dalam naskah resolusi, serangan tersebut dinilai sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan serta pelanggaran terhadap hukum internasional yang berlaku.
Dalam suasana sidang yang berlangsung formal dan penuh ketegangan, perwakilan negara-negara anggota menyampaikan pandangan masing-masing terkait resolusi tersebut. Sejumlah negara pendukung menilai langkah ini penting untuk meredam eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Mereka juga menegaskan perlunya komitmen semua pihak untuk menjaga stabilitas dan keamanan regional.
Namun demikian, keputusan DK PBB tersebut memicu perdebatan karena tidak menyinggung serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan tersebut sebelumnya dilaporkan terjadi sejak akhir Februari 2026 dan disebut sebagai salah satu pemicu meningkatnya ketegangan di kawasan. Ketidakseimbangan dalam substansi resolusi ini kemudian menjadi sorotan sejumlah pihak di tingkat internasional.
Perwakilan Iran di PBB dalam pernyataannya kepada media usai sidang menyampaikan kritik terhadap isi resolusi tersebut. Dalam suasana konferensi pers yang berlangsung di markas PBB pada malam hari waktu setempat, perwakilan Iran menyebut resolusi itu tidak mencerminkan situasi secara menyeluruh. “Resolusi ini tidak seimbang karena hanya menyoroti tindakan Iran tanpa membahas serangan terhadap wilayah kami,” ujar perwakilan tersebut.
Sementara itu, Rusia mengajukan rancangan resolusi alternatif yang menyerukan penghentian serangan oleh semua pihak yang terlibat dalam konflik. Usulan tersebut disampaikan dalam forum resmi Dewan Keamanan, namun tidak memperoleh dukungan yang cukup dari anggota lainnya. Kondisi ini mencerminkan adanya perbedaan pandangan yang tajam di antara negara-negara anggota terkait pendekatan penyelesaian konflik.
Situasi ini semakin menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah serta memunculkan perdebatan di tingkat global. Berbagai pihak menilai bahwa respons komunitas internasional terhadap konflik yang melibatkan banyak negara masih menghadapi tantangan besar. Ke depan, langkah diplomatik yang lebih inklusif dinilai menjadi kunci dalam meredakan eskalasi dan menjaga stabilitas kawasan secara berkelanjutan.
Sumber: CNBC Indonesia



