Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ads

Hakikat Iman Menurut Ahlus Sunnah, Al-Quran adalah Kalamullah dan Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyerupakan-Nya (Sesi 4)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Iman merupakan nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba. Dengannya seseorang mengenal Rabbnya, menjalankan syariat-Nya, serta mengharapkan keselamatan di dunia dan akhirat. Namun, apakah iman hanya sekadar pengakuan di lisan? Apakah cukup seseorang mengatakan dirinya beriman tanpa adanya pengaruh dalam amal perbuatannya?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sejak dahulu menjadi pembahasan penting para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Bahkan, persoalan iman termasuk salah satu pembahasan akidah yang paling banyak diperdebatkan oleh berbagai kelompok sepanjang sejarah Islam. Oleh sebab itu, para imam Islam memberikan perhatian besar untuk menjelaskan hakikat iman berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.

Hakikat Iman Menurut Ahlus Sunnah

Para ulama salaf menjelaskan bahwa iman bukan sekadar keyakinan yang tersembunyi di dalam hati, dan bukan pula hanya ucapan di bibir.

Imam Al-Muzani rahimahullah menjelaskan bahwa iman adalah perkataan dan amal. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Tidak ada iman tanpa amal, dan tidak ada amal yang diterima tanpa iman.

Inilah definisi yang disepakati para sahabat, tabi'in, dan para imam setelah mereka, yaitu:

Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.

Setiap bagian dari definisi ini memiliki makna yang sangat penting.

Iman di Dalam Hati

Allah Ta'ala berfirman bahwa ada orang-orang yang mengaku beriman dengan lisan mereka, tetapi hati mereka belum beriman. Ini menunjukkan bahwa keimanan sejati bermula dari hati yang tunduk kepada Allah.

Hati yang dipenuhi iman akan melahirkan rasa takut kepada Allah, cinta kepada-Nya, tawakal, ikhlas, serta keyakinan penuh terhadap seluruh ketetapan-Nya.

Karena itulah iman bukan sekadar pengetahuan. Seseorang bisa saja mengetahui kebenaran Islam, tetapi jika hatinya tidak tunduk, maka ia belum menjadi mukmin yang sebenarnya.

Lisan yang Mengikrarkan Keimanan

Keimanan juga harus diucapkan.

Kalimat Laa ilaaha illallah bukan sekadar lafaz yang dibaca, tetapi merupakan ikrar seorang hamba untuk mengesakan Allah serta berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan.

Rasulullah ï·º bersabda bahwa beliau diperintahkan memerangi manusia hingga mereka mengucapkan syahadat. Hal ini menunjukkan bahwa ucapan memiliki kedudukan penting dalam Islam.

Namun demikian, ucapan saja tidak cukup apabila tidak dibenarkan oleh hati.

Amal Adalah Buah dari Iman

Keimanan yang benar pasti membuahkan amal.

Shalat, zakat, puasa, sedekah, berbakti kepada orang tua, hingga menyingkirkan duri dari jalan merupakan bagian dari cabang-cabang iman.

Rasulullah ï·º bersabda:

"Iman memiliki lebih dari enam puluh atau tujuh puluh cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan Laa ilaaha illallah, sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman."

Hadis ini menunjukkan bahwa iman mencakup hati, lisan, dan anggota badan sekaligus.

Karena itu, tidak benar apabila seseorang mengaku beriman tetapi sama sekali tidak peduli terhadap amal saleh.

Iman Itu Bertambah dan Berkurang

Salah satu prinsip penting Ahlus Sunnah adalah bahwa iman tidak berada pada satu tingkat yang tetap.

Allah berfirman tentang orang-orang beriman:

"Apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka."

Setiap kali seorang hamba memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah, atau menghadiri majelis ilmu, maka imannya bertambah.

Sebaliknya, maksiat, kelalaian, serta dosa akan melemahkan iman.

Inilah sebabnya seorang muslim harus senantiasa menjaga amal salehnya. Bukan karena amal itulah yang menciptakan iman, tetapi karena amal merupakan bukti hidupnya iman di dalam hati.

Pelaku Dosa Tidak Otomatis Keluar dari Islam

Salah satu bentuk keseimbangan akidah Ahlus Sunnah adalah tidak mudah mengkafirkan seorang muslim karena dosa yang ia lakukan.

Selama dosa tersebut tidak termasuk pembatal keislaman atau kekufuran yang nyata, maka pelakunya tetap berada dalam lingkup Islam meskipun imannya berkurang.

Allah berfirman bahwa Dia mengampuni seluruh dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.

Karena itu, seorang muslim tidak boleh mudah menghakimi orang lain sebagai kafir hanya karena melakukan maksiat.

Di sisi lain, dosa juga tidak boleh diremehkan, sebab setiap maksiat akan mengurangi cahaya iman dalam hati.

Jangan Terlalu Cepat Merasa Telah Sempurna

Para ulama salaf sangat berhati-hati ketika ditanya, "Apakah engkau seorang mukmin?"

Sebagian mereka menjawab,

"Aku seorang mukmin, insya Allah."

Ungkapan ini bukan karena ragu terhadap Islamnya, melainkan bentuk tawadhu' dan rasa takut kepada Allah.

Mereka menyadari bahwa hakikat kesempurnaan iman hanya diketahui oleh Allah.

Semakin tinggi ilmu seseorang, biasanya semakin besar rasa takutnya kepada Allah dan semakin jauh dari sikap membanggakan diri.

Al-Qur'an Adalah Kalam Allah

Pada bagian berikutnya, ceramah menjelaskan salah satu pokok akidah yang sangat penting, yaitu keyakinan bahwa Al-Qur'an merupakan Kalam Allah.

Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah benar-benar berbicara sebagaimana yang layak bagi keagungan-Nya.

Al-Qur'an bukan makhluk.

Ia adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ï·º melalui Malaikat Jibril.

Keyakinan ini merupakan akidah yang diwariskan oleh para sahabat, tabi'in, hingga para imam Ahlus Sunnah sepanjang zaman.

Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyerupakan-Nya

Bagian akhir kajian membahas tentang nama dan sifat Allah.

Prinsip Ahlus Sunnah sangat sederhana namun agung:

Semua nama dan sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dalam Al-Qur'an, atau yang ditetapkan Rasulullah ï·º dalam hadis-hadis sahih, wajib diimani sebagaimana adanya.

Tidak boleh diubah maknanya.

Tidak boleh diingkari.

Tidak boleh diserupakan dengan makhluk.

Dan tidak boleh dipertanyakan bagaimana hakikatnya.

Allah sendiri telah memberikan kaidah yang sempurna:

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Ayat ini menjadi pondasi dalam memahami seluruh sifat Allah.

Allah memiliki pendengaran, penglihatan, kasih sayang, cinta, murka, berbicara, turun, beristiwa di atas Arsy, serta seluruh sifat yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, namun semuanya sesuai dengan keagungan-Nya, bukan seperti sifat makhluk.

Di sinilah letak keseimbangan Ahlus Sunnah.

Mereka tidak menolak sifat-sifat Allah sebagaimana dilakukan sebagian kelompok, tetapi juga tidak menyerupakan Allah dengan makhluk sebagaimana dilakukan kelompok lain.

Belajar Akidah dengan Sikap Tunduk

Kajian ini mengajarkan bahwa akidah bukanlah sekadar bahan perdebatan intelektual.

Ia adalah ilmu yang membimbing hati untuk semakin mengenal Allah.

Semakin seseorang memahami hakikat iman, semakin ia terdorong memperbaiki amalnya.

Semakin ia mengenal nama dan sifat Allah, semakin besar rasa cinta, takut, dan pengharapannya kepada Rabb semesta alam.

Karena itu, para ulama salaf selalu mengajarkan agar seorang muslim menerima seluruh dalil Al-Qur'an dan Sunnah dengan penuh ketundukan.

Akal digunakan untuk memahami wahyu, bukan untuk mendahuluinya.

Penutup

Iman adalah kehidupan bagi hati. Ia bukan sekadar pengakuan, melainkan keyakinan yang tumbuh, ucapan yang jujur, dan amal yang nyata.

Ia bertambah dengan ketaatan dan melemah karena kemaksiatan.

Seorang muslim hendaknya senantiasa memohon kepada Allah agar diteguhkan di atas iman yang benar, memperbanyak amal saleh, menjauhi dosa, serta mempelajari akidah sesuai dengan pemahaman Rasulullah ï·º dan para sahabatnya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang memiliki iman yang hidup, hati yang tunduk, lisan yang jujur, dan amal yang diterima di sisi-Nya.

والله تعالى أعلم، وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Rabu, 2 Juli 2026 M | 17 Muharram 1448 H, 09.30 WIB s.d Selesai *(SESI 4)*

*Dauroh Syar'iyah Intensif 1448 H*
Kitab Syarhus Sunnah Lil Imam Al Muzani
Narasumber : Syaikh Dr. Abdurrahman Bin Saad Al Oshaimi

Source : https://youtube.com/live/394n3gQfUKc?feature=share

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Surau TV, Klik : WA Grup & Telegram Channel
Copyright © 2025 - Kabasurau.co.id | All Right Reserved