BMKG menjelaskan bahwa kondisi cuaca signifikan ini dipengaruhi oleh beberapa sistem atmosfer aktif di sekitar wilayah Indonesia. Faktor utama meliputi keberadaan siklon tropis di kawasan Pasifik barat, bibit siklon tropis di selatan Indonesia, serta meluasnya daerah pertemuan angin atau konvergensi. Kombinasi tersebut memicu pertumbuhan awan hujan secara masif di berbagai wilayah.
Kepala BMKG, Ibuk Dwikorita Karnawati, dalam keterangannya di Jakarta pada Selasa (20/1/2026), menyampaikan bahwa dinamika atmosfer saat ini masih cukup kompleks. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut berpotensi meningkatkan intensitas hujan dalam waktu singkat. “Masyarakat di wilayah rawan diharapkan lebih waspada dan memantau informasi cuaca resmi dari BMKG,” ujar Ibuk Dwikorita dalam suasana pemaparan analisis cuaca nasional.
Dalam analisis atmosfer terkini, BMKG mendeteksi Siklon Tropis Nokaen berada di Laut Filipina dengan kecepatan angin maksimum sekitar 35 knot. Sistem ini menyebabkan peningkatan kecepatan angin lebih dari 25 knot di wilayah Filipina bagian utara hingga Samudra Pasifik timur Filipina. Meskipun pusat siklon bergerak menjauhi Indonesia, dampaknya tetap memengaruhi pola angin regional di wilayah Nusantara.
Selain itu, BMKG juga memantau keberadaan Bibit Siklon Tropis 97S di Laut Timor yang diperkirakan bergerak ke arah tenggara. Sistem ini memicu peningkatan kecepatan angin di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi tersebut berpotensi memperkuat pembentukan awan hujan dan meningkatkan peluang hujan lebat di wilayah sekitarnya.
BMKG turut mendeteksi daerah konvergensi dan konfluensi angin yang meluas dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, hingga Papua. Keberadaan sistem ini mendukung pertumbuhan awan hujan secara luas dan meningkatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem. Wilayah Jabodetabek juga diperkirakan mengalami hujan sedang hingga lebat pada periode 21–22 Januari 2026.
Sebagai penutup, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak cuaca ekstrem. Langkah antisipasi dini dinilai penting guna meminimalkan risiko kerugian dan korban jiwa. BMKG menegaskan akan terus memperbarui informasi cuaca secara berkala sesuai perkembangan dinamika atmosfer.
Sumber: Kompas.com



