Pengerjaan normalisasi dilakukan sejak awal Januari 2026 dengan menurunkan puluhan alat berat dan tim teknis di lokasi. Bapak Irwan Nugroho, Kepala Balai Wilayah Sungai Sumbar, menyatakan, “Kami fokus pada pembersihan sedimentasi, penguatan tanggul, dan perbaikan aliran sungai agar aliran air kembali lancar dan aman bagi masyarakat.” Proses ini melibatkan personel PU, Adhi Karya, serta masyarakat setempat sebagai bagian dari mitigasi bencana berbasis komunitas.
Suasana di lapangan tampak sibuk dengan aktivitas alat berat yang menggali endapan lumpur dan memperkuat tanggul yang longsor. Warga sekitar menyambut baik kehadiran tim normalisasi karena khawatir akan banjir susulan. Ibuk Sulastri, warga Nagari Salareh Aia, mengatakan, “Kami lega pemerintah cepat tanggap. Sungai yang tadinya meluap kini mulai kembali normal, sehingga rumah dan sawah kami lebih aman.”
Kementerian PU menargetkan proses normalisasi selesai dalam waktu satu bulan, dengan total panjang sungai yang ditangani lebih dari 35 kilometer. Selain normalisasi fisik, tim juga melakukan pemantauan kualitas air dan penguatan sistem drainase agar kawasan terdampak banjir lebih tahan terhadap hujan deras di musim berikutnya. Bapak Irwan Nugroho menambahkan, “Kami memastikan setiap sungai yang terdampak banjir dapat berfungsi optimal, sehingga tidak hanya mengurangi risiko, tetapi juga mendukung kegiatan ekonomi masyarakat setempat.”
Pemulihan ini juga didukung oleh koordinasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, BPBD, dan TNI, untuk memastikan semua wilayah terdampak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Dengan normalisasi sungai yang sistematis, pemerintah berharap masyarakat dapat kembali beraktivitas secara aman, pertanian dan perkebunan pulih, serta risiko banjir dapat diminimalkan di masa depan.
Sumber: antaranews.com



