Syahrul Udjud lahir di Solok pada 13 Januari 1943. Ia menempuh pendidikan hukum di Sekolah Hakim dan Jaksa Negeri Medan serta Fakultas Hukum Universitas Andalas. Latar belakang sebagai jaksa membentuk gaya kepemimpinannya yang lugas dan tanpa kompromi terhadap pelanggaran aturan. Nilai kedisiplinan inilah yang kemudian ia terapkan saat memimpin Kota Padang.
Salah satu ciri khas kepemimpinan Syahrul Udjud adalah perhatiannya yang besar terhadap kebersihan lingkungan. Ia percaya bahwa kota yang bersih mencerminkan masyarakat yang tertib dan beradab. Tidak jarang ia turun langsung ke lapangan, memantau pasar, jalan, hingga saluran air. Keteladanan ini membuat aparatur dan warga merasa ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan kota.
Hasilnya tidak main-main. Kota Padang berhasil meraih Piala Adipura selama tiga tahun berturut-turut, sebuah prestasi langka pada masanya. Bahkan, pada tahun berikutnya, Padang dianugerahi Adipura Kencana, penghargaan tertinggi di bidang kebersihan lingkungan. Prestasi ini menjadikan Padang sebagai salah satu kota percontohan nasional di era Orde Baru.
Ketegasan Syahrul Udjud juga terlihat dalam urusan politik. Pada Pemilu 1992, ia mewajibkan semua partai politik membersihkan sisa alat peraga kampanye setelah kegiatan selesai. Langkah ini terbilang berani, namun menunjukkan komitmennya bahwa kepentingan publik dan kebersihan kota harus selalu diutamakan.
Di bidang infrastruktur, nama Syahrul Udjud tak bisa dilepaskan dari gagasan Jalur By Pass Kota Padang. Pada masa itu, ide membangun jalur lingkar kota dianggap terlalu jauh ke depan. Namun, Syahrul Udjud sudah melihat potensi pertumbuhan kota dan pentingnya jalur alternatif untuk mendukung pergerakan ekonomi dan mengurangi kepadatan lalu lintas. Meski realisasinya baru terjadi bertahun-tahun kemudian, jalur By Pass kini menjadi urat nadi transportasi Kota Padang.
Selain By Pass, ia juga merintis berbagai upaya pengendalian banjir, persoalan klasik yang sejak lama menghantui Kota Padang. Normalisasi sungai dan perbaikan drainase mulai digagas sebagai solusi jangka panjang, bukan sekadar penanganan sementara.
Atas dedikasi dan keberhasilannya membangun partisipasi masyarakat, Presiden Bapak Soeharto menganugerahkan tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya kepada Syahrul Udjud. Setelah tidak lagi menjabat sebagai wali kota, ia tetap dipercaya negara sebagai Staf Ahli Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Bidang Hubungan Antar Lembaga.
Dalam kehidupan keluarga, Syahrul Udjud didampingi oleh Ibuk Rosmawar dan dikaruniai empat orang anak. Hingga kini, namanya masih sering disebut sebagai simbol kepemimpinan yang tegas, bersih, dan visioner. Warisan kebijakannya menjadi pengingat bahwa pembangunan kota membutuhkan keberanian berpikir jauh ke depan, bahkan ketika hasilnya baru bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.
Sumber: Kompasiana.com
Artikel ini pertama kali tayang di kabasurau.co.id



