Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ads

Analisis Geopolitik: Doktrin “Shock and Awe” Dinilai Tak Efektif Hadapi Strategi Asimetris Iran

Kabasurau.co.id: Shanghai — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat dan memicu kekhawatiran global terhadap potensi konflik berskala luas. Seorang pakar geopolitik, Bapak Jiang Xueqin, menilai bahwa doktrin militer Amerika Serikat tidak lagi efektif dalam menghadapi strategi perang asimetris yang diterapkan oleh Iran. Analisis tersebut disampaikan dalam sebuah kajian yang dipublikasikan melalui kanal YouTube pada awal Maret 2026.

Dalam suasana pemaparan analisis yang berlangsung secara daring, Bapak Jiang menjelaskan bahwa taktik “Shock and Awe” yang selama ini menjadi andalan Amerika Serikat dan sekutunya tidak akan mampu melumpuhkan Iran. Ia menuturkan bahwa strategi serangan kilat yang berfokus pada penghancuran pusat komando dinilai tidak relevan terhadap struktur militer Iran saat ini. “Jika Anda memenggal kepala di Teheran, bagian tubuh lainnya tetap akan bergerak,” ujar Bapak Jiang dalam penjelasannya pada sesi analisis tersebut.

Lebih lanjut, dalam kesempatan yang sama, Bapak Jiang menyoroti bahwa Iran telah mengembangkan sistem komando militer yang terdesentralisasi. Ia menjelaskan bahwa setiap wilayah memiliki otoritas dan strategi masing-masing sehingga tidak bergantung pada satu pusat kendali. Kondisi ini membuat upaya “dekapitasi” yang biasa digunakan dalam doktrin militer konvensional menjadi tidak efektif dalam melumpuhkan keseluruhan kekuatan.

Selain itu, Bapak Jiang juga menilai bahwa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah kini berada dalam posisi rentan. Dalam pemaparannya, ia menyebut bahwa banyak pangkalan yang dibangun sejak era Perang Dingin lebih berfungsi sebagai simbol kekuatan politik dibandingkan sebagai sistem pertahanan modern. Ia menambahkan bahwa dalam konteks perang saat ini, pangkalan tersebut berpotensi menjadi target strategis yang mudah diserang.

Dalam analisisnya yang disampaikan pada waktu yang sama, Bapak Jiang mengangkat isu ketimpangan biaya dalam peperangan modern. Ia menjelaskan bahwa Iran memanfaatkan drone berbiaya rendah, seperti Shahed, yang diproduksi dengan harga puluhan ribu dolar per unit. Sementara itu, Amerika Serikat harus menggunakan sistem pertahanan mahal seperti Patriot atau THAAD yang biaya per rudalnya mencapai jutaan dolar.

Menurut Bapak Jiang, ketimpangan ini menciptakan tekanan logistik dan ekonomi bagi militer Amerika Serikat. Ia menyebut bahwa penggunaan rudal mahal untuk menghancurkan drone murah akan menguras sumber daya secara signifikan jika berlangsung dalam jangka panjang. Hal tersebut, menurutnya, menjadi salah satu bentuk keunggulan strategi perang asimetris yang mengandalkan efisiensi biaya dan volume serangan.

Lebih jauh, dalam suasana analisis yang sama, Bapak Jiang juga memperingatkan potensi meluasnya konflik menjadi konfrontasi global. Ia menyebut kemungkinan keterlibatan negara-negara besar seperti Rusia dan China di pihak Iran, serta Inggris, Prancis, dan Jerman di sisi Amerika Serikat. Menurutnya, keterlibatan kekuatan besar tersebut dapat meningkatkan eskalasi konflik secara signifikan.

Sebagai penutup, Bapak Jiang menegaskan bahwa perkembangan ini menjadi peringatan bagi para pengambil kebijakan global. Ia menyatakan bahwa kekuatan militer konvensional yang tampak unggul di atas kertas harus beradaptasi dengan dinamika perang modern yang lebih fleksibel dan efisien. Analisis tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan strategis dalam menjaga stabilitas dan mencegah konflik yang lebih luas di masa mendatang.

Sumber: CNN Indonesia 
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Surau TV, Klik : WA Grup & Telegram Channel
Copyright © 2025 - Kabasurau.co.id | All Right Reserved