Kapal kargo bernama Mayuree Naree Bangkok dilaporkan tengah berlayar dari Dubai sebelum mencoba melintasi Selat Hormuz. Dalam perjalanan tersebut, kapal mengalami serangan yang belum diketahui secara pasti pelakunya. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.
Menurut keterangan Bapak Thadawut Thatpitakkul, Kepala Staf Angkatan Laut Kerajaan Thailand, pihaknya menerima laporan terkait serangan tersebut dari unit yang bertugas di kawasan. Dalam pernyataannya kepada media dalam suasana koordinasi darurat, ia menyebut Angkatan Laut Thailand segera mengambil langkah cepat untuk merespons situasi tersebut. Personel Angkatan Laut Thailand yang ditempatkan di Bahrain langsung berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk membantu proses penyelamatan.
“Angkatan Laut menerima laporan bahwa kapal komersial Thailand mengalami serangan saat melintas di Selat Hormuz. Kami segera berkoordinasi dengan otoritas Oman untuk memastikan keselamatan awak kapal,” ujar Bapak Thadawut dalam keterangan resminya pada hari kejadian. Pernyataan tersebut disampaikan dalam situasi siaga, mengingat tingginya risiko keamanan di wilayah tersebut. Ia menambahkan bahwa keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama dalam penanganan insiden.
Berdasarkan informasi awal, sebanyak 20 awak kapal berhasil diselamatkan dari insiden tersebut. Sementara itu, tiga awak lainnya dilaporkan masih berada di atas kapal saat proses penanganan berlangsung. Total terdapat 23 awak kapal dalam pelayaran tersebut, dan hingga kini belum ada laporan korban jiwa, meskipun otoritas masih memeriksa kemungkinan adanya korban luka.
Di sisi lain, sejumlah sumber yang berafiliasi dengan Iran menyatakan bahwa kapal tersebut diduga terkena serangan drone boat berpemandu. Serangan itu disebut terjadi setelah kapal diduga mengabaikan peringatan agar kapal komersial tidak melintas di Selat Hormuz di tengah situasi konflik. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh otoritas internasional.
Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Konflik yang terus berkembang memicu kekhawatiran bahwa jalur perdagangan internasional dapat terdampak secara signifikan. Situasi ini juga meningkatkan risiko terhadap keamanan pelayaran di kawasan Teluk Persia.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya. Setiap gangguan keamanan di wilayah ini berpotensi memicu gejolak harga energi global serta mengganggu rantai pasok internasional. Oleh karena itu, insiden ini mendapat perhatian serius dari berbagai negara dan pelaku industri energi.
Hingga saat ini, otoritas maritim internasional masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut serta pihak yang bertanggung jawab. Proses investigasi dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak guna memperoleh informasi yang akurat dan komprehensif. Pemerintah dan komunitas internasional diharapkan dapat segera menemukan solusi untuk menjaga stabilitas dan keamanan jalur pelayaran global.
Sumber: Kumparan.id



