Kabasurau.co.id: Jakarta — Ketua Dewan Ekonomi Nasional Bapak Luhut Binsar Pandjaitan memprediksi Selat Hormuz tidak akan ditutup Iran dalam jangka waktu lama, meskipun tensi konflik di kawasan Timur Tengah terus meningkat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Sidang Kabinet bersama Presiden Bapak Prabowo Subianto di tengah meningkatnya perhatian global terhadap jalur distribusi energi tersebut. Pemerintah menilai stabilitas kawasan tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga pasokan energi dunia.
Dalam suasana rapat kabinet yang berlangsung resmi dan penuh kehati-hatian, Bapak Luhut menjelaskan bahwa Iran memiliki kepentingan strategis untuk tetap menjaga jalur Selat Hormuz tetap terbuka. Menurutnya, ketergantungan Iran terhadap ekspor minyak melalui jalur tersebut menjadi faktor utama yang membuat penutupan total sulit terjadi dalam waktu lama. “Situasinya masih fluktuatif, tetapi Iran juga punya kepentingan untuk bertahan. Jadi Selat Hormuz tidak mungkin ditutup seterusnya,” ujar Bapak Luhut saat memberikan penjelasan di hadapan Presiden dan jajaran menteri.
Lebih lanjut, pemerintah Indonesia telah menyiapkan tiga skenario utama terkait perkembangan konflik yang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia. Skenario pertama adalah eskalasi konflik, di mana gangguan terhadap Selat Hormuz selama lebih dari tujuh hari dapat mendorong harga minyak melonjak hingga kisaran US$110 hingga US$150 per barel. Kondisi ini dinilai dapat memberikan tekanan signifikan terhadap perekonomian global, termasuk negara-negara pengimpor energi.
Skenario kedua adalah konflik berkepanjangan, yang ditandai dengan serangan terbatas serta proses negosiasi yang berjalan lambat. Dalam kondisi ini, harga minyak diperkirakan berada di kisaran US$80 hingga US$110 per barel. Pemerintah menilai skenario ini sebagai situasi moderat yang masih memungkinkan stabilitas relatif, meskipun tetap memerlukan kewaspadaan tinggi.
Sementara itu, skenario ketiga adalah deeskalasi konflik, di mana terjadi gencatan senjata dan distribusi minyak kembali normal. Dalam situasi ini, harga minyak dunia diperkirakan dapat turun ke kisaran US$65 hingga US$80 per barel. Pemerintah memandang skenario ini sebagai kondisi yang paling diharapkan karena dapat menjaga stabilitas ekonomi global dan domestik.
Meski dinamika geopolitik global masih penuh ketidakpastian, Bapak Luhut menegaskan bahwa kondisi Indonesia relatif aman, khususnya menjelang libur panjang Idul Fitri 1447 Hijriah. Pemerintah, menurutnya, akan terus memantau perkembangan situasi internasional secara cermat dan menyiapkan langkah antisipatif yang diperlukan. Dengan pengawasan yang ketat dan koordinasi lintas sektor, pemerintah optimistis dapat menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.
Sumber: Detik.com



