بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.
Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada umat Islam adalah petunjuk menuju jalan yang lurus. Jalan itu bukan dibangun oleh akal manusia, bukan pula oleh gelombang opini yang berubah mengikuti zaman, tetapi oleh wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ dan dipahami oleh para sahabat beliau. Karena itu, keselamatan seorang Muslim tidak hanya bergantung pada semangat beragama, tetapi juga pada ketepatan dalam mengikuti tuntunan syariat.
Dalam salah satu pembahasan kitab Syarḥ as-Sunnah karya Imam al-Muzani rahimahullah, dijelaskan beberapa prinsip penting akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Prinsip-prinsip tersebut bukan sekadar teori, melainkan pedoman yang menjaga agama, persatuan umat, dan ketenangan masyarakat.
Ketaatan kepada Pemimpin dalam Perkara yang Ma'ruf
Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian besar adalah tentang sikap seorang Muslim terhadap pemimpin.
Imam al-Muzani menyebutkan bahwa seorang Muslim wajib menaati pemimpin dalam perkara yang diridhai Allah serta meninggalkan apa yang dimurkai-Nya. Prinsip ini bersandar pada firman Allah Ta‘ālā:
"Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian."
Namun, ketaatan kepada pemimpin bukanlah ketaatan mutlak sebagaimana ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah ﷺ telah menegaskan:
"Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang baik."
Artinya, apabila seorang pemimpin memerintahkan kemaksiatan, maka tidak boleh ditaati dalam kemaksiatan tersebut. Akan tetapi, penolakan terhadap perintah maksiat tidak berarti membolehkan pemberontakan, penghasutan, atau tindakan yang justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
Di sinilah letak keseimbangan ajaran Islam. Seorang Muslim tetap menjaga hak-hak pemimpin, sembari tetap menjaga hak Allah di atas segala-galanya.
Mengapa Masalah Ini Sangat Penting?
Para ulama Ahlus Sunnah selalu memasukkan pembahasan tentang pemimpin ke dalam kitab-kitab akidah. Hal ini bukan tanpa alasan.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa begitu banyak pertumpahan darah, perpecahan, dan kerusakan yang berawal dari sikap yang keliru terhadap penguasa. Sejak masa awal Islam hingga zaman modern, fitnah dalam masalah kepemimpinan menjadi salah satu sebab terbesar terpecahnya kaum Muslimin.
Karena itu, para ulama menegaskan bahwa pembahasan ini harus diajarkan ketika keadaan masyarakat masih tenang, bukan ketika fitnah telah berkobar. Sebab ketika fitnah telah datang, manusia cenderung mengikuti emosi daripada ilmu.
Hati yang telah dibina dengan akidah yang benar akan lebih kuat menghadapi gelombang provokasi.
Menasihati dengan Hikmah, Bukan Mempermalukan
Islam tidak melarang memberi nasihat kepada pemimpin. Bahkan, nasihat merupakan bagian dari agama.
Namun syariat mengajarkan adab dalam menyampaikan nasihat tersebut.
Rasulullah ﷺ mengarahkan agar seseorang menasihati pemimpinnya secara langsung dan dengan cara yang lembut, bukan menjadikannya bahan celaan di hadapan masyarakat. Tujuan nasihat adalah memperbaiki keadaan, bukan mempermalukan orang lain.
Betapa sering seseorang mengira dirinya sedang membela agama, padahal tanpa disadari yang sedang ia bela hanyalah ego dan keinginan agar dipuji manusia.
Seorang dai hendaknya selalu bertanya kepada dirinya:
"Apakah aku melakukan ini semata-mata karena Allah, atau karena ingin dikenal sebagai orang yang berani?"
Muhasabah seperti inilah yang menjadi ciri keikhlasan.
Bahaya Mengobarkan Kebencian
Ceramah tersebut juga mengingatkan tentang bentuk-bentuk pemberontakan yang tidak selalu berupa senjata.
Lisan dapat menjadi awal dari kerusakan yang jauh lebih besar daripada pedang.
Menyebarkan kebencian, mencaci pemimpin, membuka aib mereka kepada masyarakat, menghasut melalui mimbar, tulisan, maupun media sosial, semuanya dapat menjadi pintu munculnya kekacauan yang lebih luas.
Dalam banyak peristiwa sejarah, pemberontakan bersenjata hampir selalu diawali oleh propaganda yang panjang. Ketika hati masyarakat telah dipenuhi kebencian, maka muncul keberanian untuk melakukan tindakan yang lebih jauh.
Karena itu, Islam sangat menjaga lisan. Seorang Muslim diperintahkan memilih kata-kata yang membawa maslahat, bukan memperbesar fitnah.
Pelajaran dari Berbagai Peristiwa
Dalam ceramah tersebut juga disinggung berbagai gejolak yang pernah terjadi di negeri-negeri Muslim pada masa modern.
Berbagai demonstrasi, pemberontakan, dan konflik yang awalnya digambarkan sebagai jalan menuju perubahan, pada kenyataannya di banyak tempat justru berakhir dengan pertumpahan darah, hilangnya keamanan, runtuhnya perekonomian, dan penderitaan rakyat.
Hal ini menjadi pelajaran bahwa niat yang baik tidak cukup apabila jalan yang ditempuh bertentangan dengan tuntunan syariat.
Seorang Muslim diajarkan untuk menimbang manfaat dan mudarat berdasarkan petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah, bukan sekadar dorongan emosi atau semangat sesaat.
Perbaikan Dimulai dari Diri Sendiri
Salah satu pesan yang sangat menyentuh dalam ceramah ini adalah firman Allah:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."
Ayat ini mengingatkan bahwa perubahan masyarakat bermula dari perubahan individu.
Ketika masyarakat dipenuhi kejujuran, amanah, ibadah, ilmu, dan akhlak yang baik, Allah akan menghadirkan pemimpin yang lebih baik.
Sebaliknya, apabila maksiat merajalela, maka musibah dalam berbagai bentuk dapat menjadi konsekuensinya.
Oleh sebab itu, daripada sibuk mencari kesalahan orang lain, seorang Muslim lebih dahulu memperbaiki dirinya, keluarganya, dan lingkungannya.
Tidak Mudah Mengkafirkan Sesama Muslim
Pembahasan berikutnya adalah tentang larangan mudah mengkafirkan kaum Muslimin.
Ahlus Sunnah memegang prinsip bahwa setiap orang yang mengaku Islam tetap dihukumi sebagai Muslim sampai terbukti dengan dalil yang jelas bahwa ia telah keluar dari Islam.
Takfir bukan urusan orang awam, bukan pula sekadar hasil membaca beberapa buku atau menonton potongan ceramah.
Menjatuhkan vonis kafir memiliki syarat-syarat yang sangat ketat dan hanya boleh dilakukan oleh para ulama yang memahami dalil, mengetahui adanya syarat-syarat, serta memastikan tidak adanya penghalang dalam penerapannya.
Sikap tergesa-gesa dalam masalah ini justru menjadi pintu lahirnya berbagai kelompok ekstrem sepanjang sejarah.
Mencintai Seluruh Sahabat Nabi ﷺ
Akidah Ahlus Sunnah juga mengajarkan kecintaan kepada seluruh sahabat Rasulullah ﷺ.
Mereka adalah generasi terbaik yang dipilih Allah untuk menemani Rasul-Nya.
Di antara mereka, yang paling utama adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu 'anhum.
Sesudah mereka, seluruh sahabat tetap memiliki kemuliaan yang tidak mungkin disamai oleh generasi setelahnya.
Karena itu, seorang Muslim menjaga lisannya dari membicarakan perselisihan yang pernah terjadi di antara para sahabat. Kita menyebut kebaikan mereka, mengambil teladan dari kehidupan mereka, dan menyerahkan urusan yang telah berlalu kepada Allah Yang Maha Adil.
Mengikuti Jalan Generasi Salaf
Pada bagian penutup, Imam al-Muzani mengingatkan bahwa seluruh prinsip tersebut merupakan jalan para ulama terdahulu.
Keselamatan bukan terletak pada banyaknya pendapat baru, tetapi pada kesungguhan mengikuti jalan yang telah ditempuh Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi'in, dan para imam yang lurus.
Mereka tidak berlebihan dan tidak pula meremehkan agama. Mereka berada di jalan pertengahan; tidak melampaui batas dan tidak mengurangi ajaran syariat.
Inilah ciri Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Penutup
Setiap zaman memiliki ujiannya masing-masing. Di era media sosial, fitnah dapat menyebar hanya dalam hitungan detik. Provokasi, ujaran kebencian, dan informasi yang belum tentu benar mudah memenuhi ruang kehidupan kita.
Karena itu, seorang Muslim semakin membutuhkan ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman generasi salaf.
Persatuan umat tidak dibangun dengan emosi, tetapi dengan ilmu. Perubahan tidak dimulai dari kemarahan, tetapi dari taubat. Kekuatan Islam tidak lahir dari banyaknya suara yang saling menyalahkan, tetapi dari hati yang tunduk kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.
Semoga Allah Ta‘ālā menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berpegang teguh kepada Sunnah, menjaga persatuan kaum Muslimin, menghormati para ulama, mencintai para sahabat Nabi ﷺ, serta diberi keistiqamahan hingga akhir hayat.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Rabu, 2 Juli 2026 M | 17 Muharram 1448 H, 17.30-18.00 WIB (SESI 6)
*Dauroh Syar'iyah Intensif 1448 H*
Kitab Syarhus Sunnah Lil Imam Al Muzani
Narasumber : Syaikh Dr. Abdurrahman Bin Saad Al Oshaimi




