Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ads

Mengenal Allah Melalui Nama dan Sifat-Nya: Allah Mahatinggi di Atas Arsy, Namun Dekat dengan Hamba-Nya (Sesi 1)

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ï·º, keluarga, para sahabat, serta seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Di antara ilmu yang paling agung dalam Islam adalah mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin seorang hamba mengenal Rabb-nya, semakin besar pula rasa cinta, takut, harap, tawakal, dan penghambaan kepada-Nya. Oleh karena itu, para ulama menjadikan pembahasan tentang akidah dan Asmaul Husna sebagai fondasi utama sebelum membahas ilmu-ilmu lainnya.

Allah Mahatinggi di Atas Arsy, Namun Dekat dengan Hamba-Nya

Syaikh menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menggabungkan antara penyebutan istiwa' (bersemayam) di atas Arsy dengan keluasan ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk.

Allah berfirman bahwa Dia mengetahui segala sesuatu, bahkan sesuatu yang paling tersembunyi dan yang lebih tersembunyi lagi. Tidak ada satu pun bisikan hati, lintasan pikiran, maupun rahasia yang luput dari pengetahuan-Nya.

Hal ini menunjukkan dua perkara penting yang harus diyakini seorang Muslim:

  • Allah Mahatinggi di atas Arsy dengan keagungan-Nya.

  • Allah Maha Mengetahui seluruh keadaan makhluk-Nya.

Kedua keyakinan ini tidak saling bertentangan. Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya, namun ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Allah juga berfirman:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku."

Kedekatan Allah kepada hamba-Nya bukan berarti Allah menyatu dengan makhluk atau berada di setiap tempat. Kedekatan tersebut adalah kedekatan yang sesuai dengan keagungan-Nya, yaitu dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, serta pertolongan-Nya kepada hamba-hamba yang beriman.

Rasulullah ï·º pernah mengingatkan para sahabat ketika mereka mengangkat suara saat berzikir dalam perjalanan. Beliau bersabda bahwa Dzat yang mereka seru bukanlah Dzat yang tuli ataupun jauh, bahkan lebih dekat kepada mereka daripada leher kendaraan yang mereka tunggangi.

Hadis ini semakin menegaskan bahwa Allah mendengar seluruh doa hamba-hamba-Nya tanpa harus berada di dalam makhluk atau bercampur dengan ciptaan-Nya.

Allah Maha Esa

Setelah menjelaskan tentang ketinggian Allah, pembahasan beralih kepada nama-nama Allah.

Salah satu nama Allah adalah Al-Wahid (الواحد).

Allah adalah Yang Maha Esa dalam segala hal:

  • Esa dalam Dzat-Nya.

  • Esa dalam nama-nama-Nya.

  • Esa dalam sifat-sifat-Nya.

  • Esa dalam hak untuk disembah.

Tidak ada sekutu bagi-Nya.

Tidak ada tandingan bagi-Nya.

Tidak ada yang menyerupai-Nya.

Allah berfirman:

"Dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan."

Tauhid inilah yang menjadi inti seluruh dakwah para nabi dan rasul.

Makna Agung Nama Allah As-Shamad

Nama Allah berikutnya adalah As-Shamad (الصمد).

Makna As-Shamad sangat luas.

Para ulama menjelaskan bahwa As-Shamad adalah Dzat yang menjadi tempat bergantung seluruh makhluk dalam memenuhi kebutuhan mereka.

Semua makhluk membutuhkan Allah.

Tidak ada satu makhluk pun yang mampu hidup tanpa pertolongan-Nya.

Sebaliknya, Allah sama sekali tidak membutuhkan makhluk.

Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa As-Shamad adalah:

  • Pemimpin yang sempurna kepemimpinannya.

  • Yang Mulia dengan kemuliaan yang sempurna.

  • Yang Agung dengan keagungan yang sempurna.

  • Yang Maha Penyantun dengan kesantunan yang sempurna.

  • Yang Maha Mengetahui dengan ilmu yang sempurna.

  • Yang Maha Bijaksana dengan hikmah yang sempurna.

Seluruh bentuk kesempurnaan terkumpul hanya pada Allah semata.

Karena itulah tidak ada satu pun makhluk yang layak disamakan dengan-Nya.

Surah Al-Ikhlas Menolak Segala Bentuk Penyimpangan

Ketika kaum musyrikin meminta Nabi ï·º menjelaskan sifat Rabb beliau, Allah menurunkan Surah Al-Ikhlas.

Dalam surah tersebut Allah berfirman:

"Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa."

Kemudian Allah menegaskan:

  • Allah adalah As-Shamad.

  • Allah tidak beranak.

  • Allah tidak diperanakkan.

  • Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.

Ayat-ayat ini merupakan bantahan terhadap seluruh bentuk kesyirikan, penyembahan selain Allah, maupun keyakinan yang menyamakan Allah dengan makhluk.

Syaikh juga mengingatkan tentang munculnya sebagian kelompok yang menafsirkan ayat tersebut untuk mendukung paham Wahdatul Wujud, yaitu keyakinan bahwa pencipta dan makhluk pada hakikatnya adalah satu.

Penafsiran seperti ini sama sekali tidak didukung oleh Al-Qur'an, hadis, bahasa Arab, maupun pemahaman para ulama salaf. Justru Surah Al-Ikhlas secara tegas memisahkan antara Sang Pencipta dengan seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Allah Tidak Memiliki Istri dan Anak

Allah Mahasuci dari segala sifat kekurangan.

Dia tidak memiliki pasangan hidup.

Dia tidak memiliki anak.

Seluruh makhluk mengalami kelahiran, pertumbuhan, dan kematian.

Sedangkan Allah hidup dengan kehidupan yang sempurna.

Dia tidak dilahirkan.

Dia tidak mati.

Dia tidak diwarisi.

Dia adalah Al-Hayy (Yang Maha Hidup) yang kehidupan-Nya kekal selamanya.

Tidak Ada yang Menyerupai Allah

Salah satu prinsip terbesar dalam akidah Islam adalah firman Allah:

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Ayat ini mengajarkan keseimbangan akidah.

Di satu sisi kita menetapkan seluruh nama dan sifat Allah sebagaimana datang dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

Di sisi lain kita tidak menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk.

Allah mendengar, tetapi pendengaran-Nya tidak seperti pendengaran manusia.

Allah melihat, tetapi penglihatan-Nya tidak seperti penglihatan makhluk.

Allah hidup, namun kehidupan-Nya tidak menyerupai kehidupan siapa pun.

Inilah akidah yang diajarkan para nabi dan dipahami oleh generasi salaf.

Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat

Di antara nama Allah adalah As-Sami' (السميع) dan Al-Bashir (البصير).

Pendengaran Allah meliputi seluruh suara.

Baik yang diucapkan dengan keras maupun yang hanya berupa bisikan hati.

Penglihatan Allah meliputi seluruh makhluk.

Tidak ada satu gerakan pun yang tersembunyi dari-Nya.

Rasulullah ï·º pernah bersabda kepada para sahabat agar mereka tidak mengangkat suara secara berlebihan ketika berzikir.

Beliau menjelaskan bahwa Allah bukanlah Dzat yang tuli ataupun jauh.

Allah Maha Mendengar setiap doa yang dipanjatkan hamba-Nya.

Hal ini menjadi penghibur bagi setiap Muslim.

Tidak ada doa yang sia-sia.

Tidak ada air mata yang luput dari perhatian Allah.

Tidak ada keluhan yang tidak didengar oleh-Nya.

Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti

Allah juga memiliki nama Al-'Alim (العليم) dan Al-Khabir (الخبير).

Ilmu Allah meliputi:

  • perkara yang tampak,

  • perkara yang tersembunyi,

  • masa lalu,

  • masa kini,

  • masa depan,

  • hal-hal yang besar,

  • bahkan sesuatu yang sangat kecil.

Allah mengetahui seluruh amal manusia.

Baik amal yang dilakukan secara terang-terangan maupun yang disembunyikan.

Setiap amal akan mendapatkan balasan yang sempurna sesuai dengan keadilan-Nya.

Nama yang Tidak Ditetapkan Sebagai Asmaul Husna

Dalam penjelasan Syaikh disebutkan istilah Al-Mani' dan Ar-Rafi'.

Makna keduanya memang benar secara bahasa, yaitu menunjukkan kemuliaan, kekuatan, dan ketinggian Allah.

Namun para ulama menjelaskan bahwa penyebutan keduanya sebagai nama Allah memerlukan dalil yang sahih dari Al-Qur'an atau Sunnah.

Prinsip ini mengajarkan bahwa penetapan Asmaul Husna harus berdasarkan dalil, bukan sekadar makna bahasa yang baik.

Mengenal Allah Adalah Awal dari Seluruh Kebaikan

Syaikh menutup dengan penegasan bahwa pembahasan mengenai nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan fondasi dalam memahami akidah Islam.

Seorang Muslim tidak cukup hanya mengetahui nama Allah secara hafalan, tetapi harus memahami maknanya, mengimaninya, serta merasakan pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika seorang hamba benar-benar mengenal Allah sebagai Yang Maha Mendengar, ia akan menjaga lisannya.

Ketika ia yakin Allah Maha Melihat, ia akan menjaga pandangannya.

Ketika ia percaya Allah Maha Mengetahui isi hati, ia akan membersihkan niatnya.

Ketika ia memahami bahwa Allah adalah As-Shamad, ia akan berhenti bergantung kepada makhluk dan hanya menggantungkan seluruh harapan kepada Rabb semesta alam.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mengenal-Nya dengan benar, mengagungkan nama-nama-Nya, mengimani seluruh sifat-Nya sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, serta meneguhkan hati kita di atas tauhid hingga akhir hayat.

Wallahu a'lam bish-shawab. 

Rabu, 1 Juli 2026 M | 16 Muharram 1448 H, 08.30 WIB s.d Selesai (SESI 1)

*PEMBUKAAN Dauroh Syar'iyah Intensif 1448 H*
Kitab Syarhus Sunnah Lil Imam Al Muzani
Narasumber : Syaikh Dr. Abdurrahman Bin Saad Al Oshaimi

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Surau TV, Klik : WA Grup & Telegram Channel
Copyright © 2025 - Kabasurau.co.id | All Right Reserved