بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Dialah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Yang mengatur seluruh alam semesta dengan ilmu, hikmah, dan kehendak-Nya yang sempurna. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti jalan mereka hingga Hari Kiamat.
Takdir, Salah Satu Pilar Keimanan
Di antara rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim adalah beriman kepada qadha dan qadar, yaitu meyakini bahwa segala sesuatu telah ditetapkan Allah dengan ilmu dan hikmah-Nya.
Dalam hadits Jibril yang masyhur, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa iman adalah beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir, baik yang baik maupun yang buruk.
Banyak orang mudah menerima bahwa nikmat, kesehatan, dan rezeki adalah bagian dari takdir Allah. Namun ketika musibah datang, penyakit menimpa, atau kehilangan orang yang dicintai, keimanan kepada takdir sering kali diuji. Padahal, iman kepada takdir bukan hanya menerima yang menyenangkan, tetapi juga tunduk kepada ketetapan Allah yang terasa berat bagi jiwa.
Di sinilah letak keindahan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Seorang mukmin memahami bahwa semua yang Allah tetapkan tidak pernah keluar dari ilmu, hikmah, dan keadilan-Nya.
Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu
Imam Al-Muzani rahimahullah berkata bahwa Allah meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya.
Keyakinan ini merupakan tingkatan pertama dalam iman kepada takdir, yaitu ilmu Allah.
Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.
Allah mengetahui:
apa yang telah terjadi,
apa yang sedang terjadi,
apa yang akan terjadi,
bahkan sesuatu yang tidak pernah terjadi, seandainya terjadi, Allah mengetahui bagaimana akhirnya.
Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, baik yang besar maupun yang kecil. Tidak ada sebutir debu di langit maupun di bumi yang luput dari pengetahuan-Nya.
Allah mengetahui gerakan semut di kegelapan malam. Allah mengetahui bisikan hati yang tidak pernah terucapkan. Bahkan Allah mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa yang disembunyikan oleh dada manusia.
Kesempurnaan ilmu Allah inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa hanya Dia yang berhak disembah.
Segala Sesuatu Telah Ditetapkan
Setelah ilmu Allah, datang tingkatan berikutnya, yaitu penulisan takdir.
Allah telah menuliskan seluruh ketentuan makhluk di Lauhul Mahfuzh sebelum langit dan bumi diciptakan.
Tidak ada rezeki yang tertukar.
Tidak ada ajal yang maju ataupun mundur.
Tidak ada musibah yang terjadi secara kebetulan.
Tidak ada keberhasilan yang muncul tanpa ketetapan Allah.
Segala sesuatu berjalan sesuai dengan ketentuan-Nya.
Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
"Seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu."
Hadits ini mengajarkan ketenangan yang luar biasa. Hati seorang mukmin tidak mudah bergantung kepada makhluk, karena ia mengetahui bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah.
Rahasia Takdir yang Tidak Diketahui Manusia
Salah satu sebab munculnya penyimpangan dalam masalah takdir adalah keinginan manusia untuk mengetahui seluruh rahasia Allah.
Padahal Allah sengaja menyembunyikan takdir dari makhluk-Nya.
Mengapa?
Karena hal itu merupakan bagian dari hikmah-Nya.
Seandainya manusia mengetahui seluruh takdirnya sejak awal, niscaya kehidupan ini tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu Allah menutup rapat ilmu tersebut dan hanya memerintahkan manusia untuk beramal.
Di sinilah letak ujian keimanan.
Apakah seseorang tetap taat meskipun tidak mengetahui apa yang akan terjadi?
Apakah ia tetap beribadah meskipun belum mengetahui bagaimana akhir hidupnya?
Mukmin sejati menjawab semua pertanyaan itu dengan amal, bukan dengan perdebatan.
Empat Tingkatan Iman kepada Takdir
Para ulama menjelaskan bahwa iman kepada takdir memiliki empat tingkatan.
1. Ilmu
Allah mengetahui segala sesuatu secara sempurna.
Tidak ada satu pun kejadian yang luput dari ilmu-Nya.
2. Penulisan
Allah telah menuliskan seluruh ketetapan makhluk di Lauhul Mahfuzh.
Semua telah tercatat sebelum penciptaan alam semesta.
3. Kehendak (Masyi'ah)
Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi.
Apa yang tidak Allah kehendaki tidak akan pernah terjadi.
Namun kehendak Allah terbagi menjadi dua.
Pertama, kehendak kauni (ketetapan alam semesta), yaitu segala sesuatu yang Allah izinkan terjadi, baik yang dicintai maupun yang tidak dicintai-Nya.
Kedua, kehendak syar'i, yaitu apa yang Allah cintai berupa keimanan, ketaatan, dan amal saleh.
Memahami perbedaan dua jenis kehendak ini menjadi kunci untuk menghindari berbagai syubhat dalam masalah takdir.
4. Penciptaan
Allah adalah Pencipta segala sesuatu.
Tidak ada satu makhluk pun yang keluar dari kekuasaan-Nya.
Seluruh alam semesta berada dalam kerajaan-Nya.
Hikmah Beriman kepada Takdir
Iman kepada takdir bukan sekadar pembahasan ilmiah dalam kitab akidah.
Buahnya sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika seorang mukmin kehilangan pekerjaan, ia berkata:
"Allah memiliki hikmah yang belum aku ketahui."
Ketika sakit datang, ia bersabar.
Ketika musibah menimpa keluarganya, ia tetap berharap kepada Allah.
Ketika melihat kaum muslimin mengalami berbagai ujian, ia tetap optimis terhadap agama Allah.
Mengapa?
Karena ia yakin bahwa Allah menjaga agama-Nya.
Allah tidak membutuhkan manusia untuk mempertahankan Islam.
Allah sendiri yang menjaga Al-Qur'an, menjaga syariat, dan menjaga agama ini hingga Hari Kiamat.
Keyakinan seperti inilah yang menumbuhkan ketenangan, bukan keputusasaan.
Jangan Terlalu Tenggelam dalam Rahasia Takdir
Para ulama mengingatkan bahwa obat terbaik dalam menghadapi persoalan takdir adalah taslim, yaitu berserah diri kepada Allah.
Bukan berarti meninggalkan akal, tetapi memahami batas kemampuan akal.
Ada wilayah yang memang tidak mungkin dijangkau oleh manusia.
Mengapa seseorang lahir miskin?
Mengapa ada yang wafat ketika masih muda?
Mengapa ada orang yang sepanjang hidup tampak saleh namun akhirnya tergelincir?
Mengapa ada orang yang lama berada dalam kemaksiatan kemudian mendapatkan hidayah menjelang ajal?
Jawaban rinci dari semua itu berada dalam ilmu Allah.
Tugas manusia bukan mengetahui seluruh rahasia tersebut, tetapi beriman kepada kebijaksanaan Allah.
Allah Maha Kaya dari Seluruh Makhluk
Allah menciptakan seluruh makhluk bukan karena membutuhkan mereka.
Dia tidak menjadi mulia karena banyaknya orang yang taat.
Dia tidak menjadi lemah karena banyaknya orang yang durhaka.
Dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa seandainya seluruh manusia dan jin menjadi orang paling bertakwa, hal itu tidak menambah sedikit pun kerajaan-Nya.
Sebaliknya, apabila seluruh manusia menjadi orang paling durhaka, kerajaan Allah juga tidak akan berkurang sedikit pun.
Allah Maha Kaya.
Kitalah yang membutuhkan-Nya.
Penutup
Iman kepada takdir adalah salah satu pondasi terbesar dalam membangun ketenangan jiwa.
Seseorang yang memahami bahwa segala sesuatu telah ditetapkan dengan ilmu, hikmah, dan kasih sayang Allah tidak akan mudah putus asa ketika diuji dan tidak akan sombong ketika diberi nikmat.
Ia terus berusaha, berdoa, bertawakal, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Karena ia yakin bahwa apa yang Allah pilih untuknya selalu lebih baik daripada apa yang ia pilih untuk dirinya sendiri.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang benar dalam beriman kepada qadha dan qadar, menerima seluruh ketetapan-Nya dengan penuh keridhaan, serta diwafatkan di atas iman dan Islam.
والله أعلم بالصواب.
Rabu, 1 Juli 2026 M | 16 Muharram 1448 H, 11.30 WIB s.d Selesai (SESI 2)
*Dauroh Syar'iyah Intensif 1448 H*
Kitab Syarhus Sunnah Lil Imam Al Muzani
Narasumber : Syaikh Dr. Abdurrahman Bin Saad Al Oshaimi
Teks Naskah Transkrip (Accurate 95%) :
وإمامي المرسلين نبينا ورسولنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد. قال الإمام المزاني رحمه الله. قال على عرشه، وهو دان بعلمه من خلقه؟ أحاط علمه بالأمور، وأنفذ في خلقه سابق المقدور، يعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور. نعم. هذه المسألة هي مسألة. الإيمان. بالقضاء والقدر. وهذه من المسائل العويصة. التي. وقعت الفتنة. فيها مبكرا. وحصلت البدعة. في عهد أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم. وسئل عنها أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فأبانوا الحق في فيها. ورأس الأمر في ذلك. أن النبي صلى الله عليه وسلم كما في حديث عمر بن الخطاب، الحديث الطويل. دخل علينا رجل. شديد سواد الشعر، سدي شديد سواد الثياء، البيا، شديد بياض الثياب، لا يعرفه منا أحد، ولا يرى عليه أثر. السفر. حتى إذا انتهى إلى النبي صلى الله عليه وسلم أسندا، ركبتيه إلى ركبتيه، وضع كفيه على فخذيه، فقال هذا الحديث ذكر فيه النبي صلى الله عليه وسلم أركان الإسلام. وأركان الإيمان، وركن الإحسان. ومنه قوله صلى الله عليه وسلم وأن تؤمن بالقدر خيره وشره. ولذلك، يحصل عند الناس. إيمان. بالقدر في الخير. ولكنهم. ينكلون عن ذلك في الإيمان بالشر. وهذه المسألة هي متعلقة فهم هذه المسألة متعلق بفهم مراتب القدر. أين حصل الضلال؟ وأين حصل؟ الخطأ؟ أنه لا يعرف ترتيب هذه المسائل، ترتيب هذه المراتبي. بالأدلة، فيحصل تعارض في أذهان الناس لاختلاف ترتيب هذه الأدلة، والتي من عقلها وفهمها. عرف معنى عقيدة أهل السنة والجماعة في القدر. قوله رحمه الله تعالى. أحاط علمه بالأمور. هذا فيه إشارة إلى مرتبة العلم، وهي المرتبة الأولى من مراتب. القدر. ومعناها أن الله سبحانه وتعالى قد أحاطها بكل شيء، علما. فلا يعزو عنهم مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض. فالله سبحانه وتعالى يعلم كل شيء. يعلم الموجودات. والمعلومات. والممكنات، والمستحيلات. فهو يعلم ما كان. وما يكون؟ وما سيكون، وما لم يكن، لو كان، كيف سيكون؟ فالله سبحانه وتعالى علمه عظيم. وعلمه تام. ويعلم سبحانه وتعالى الإجمالات والتفصيلات. طبعا في دقائق في هذه المسائل لأن بعضها البدع يعني يثبتون علم الله بالعموم ولا دون علمه بالخصوص، لكن المقصود هو أه تقرير عقيدة أهل السنة والجماعة وليس. الرد على أهل الأهواء والبداع بهذا الموضوع. فالله سبحانه وتعالى قدر كل شيء، وقدر الخير، وقدر الشر. وكل شيء في كونه بعلمه. وبقدره السابق. وبكتابته سبحانه وتعالى. قال الله جل وعز عالم الغيب والشهادة. وقوله سبحانه وتعالى وأن الله قد أحاط بكل شيء علما. والنبي صلى الله عليه وسلم قال لما سئل عن درار المشركين؟ قال الله أعلم بما كانوا عاملين. أي أن الله خلقهم، ولما قدر لهم هذا القدر. فإنه أعلم سبحانه وتعالى بما يكون أحوالهم لو أنهم كبروا. وماتوا. فالله سبحانه وتعالى يعلم ما كان وما سيكون، حتى ما لم يكن يعلمه جل وعز، لو أنه كان، كيف سيكون مآله ونهاية أمره، والله عز وجل لو لم يكن هذا صفته لما كان مستحقا للعبادة. من استحقاقات الله سبحانه وتعالى للعبادة من مستحقات الله عز وجل للعبادة، مثل هذا. إنه يعلم. المستحيلات. وما قدر الله حق قدره. لكن هؤلاء الذين فتنوا في هذا الباب. ظن منهم يعني إست إستقر في أذهانهم وفي قلوبهم وفي صدورهم. بعض ما يشبهون الله سبحانه وتعالى بخلقه، فرأوا أن هذا من المحالات، أو أن هذا من الظلم، أو أن هذا من عدم العدل، أو أن هذا. فيه حيف على الخليقه. ولكنهم لم يعلموا. لم يقدروا الله ق حق قدره، وإلا لما ظنوا هذا الظن السيء بربهم سبحانه وتعالى. ثم قال رحمه الله تعالى وأنفذ في خلقه سابق المقدور. أي ما قدره عليه من خير وشر، لابد أن يقع. لا بد إن يقع إذا كان الله قد قدره في سابق علمه، فإنه واقع لا محالة. قال الله سبحانه وتعالى إنا كل شيء خلقناه بقدر. وهل شيء في هذا الوجود؟ لم يخلقه الله سبحانه وتعالى كل ما سوى الله مخلوق. إذن كل ما سوى الله سبحانه وتعالى داخل في هذا القدر، إنا كل شيء خلقناه بقدر، وقال الله سبحانه وتعالى وخلق كل شيء كل من ألفاظ العموم، وخلق كل شيء فقدره تقديرا. قال رحمه الله تعالى يستدل بهذه الآية الكريمة أئمة أهل السنة على إثبات قدر الله تعالى السابق لخلقه، وهو علمه الأشياء قبل كونها وكتابتها، هل قبل كونها وكتابته لها قبل برئها؟ وردوا بهذه الآية وبما شاكلها من الآيات ما ورد في معناها من الأحاديث، وما ورد في معناها من الأحاديث الثابتات على الفرقة القدرية الذين نبغوا في آخر وقت الصحابة رضي الله عصر الصحابة رضي الله عنهم. وعلي ابن عباس رضي الله عنهما قال قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم واعلم أن الأمة لو اجتمعوا على أن ينفعوك بشيء. لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك. ولو اجتمعوا على يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك. رفعت الأقلام، وجفت الصحف، وهذا دليل بين ظاهر لمن كان له قلب. الله سبحانه وتعالى قدر هذه المقادير. قبل أن يخلق الخلق، وكتب هذه المقادير، قبل أن يخلق الخلق إذن. نوفاة القدر لم يفهموا مراد الله سبحانه وتعالى من هذا التقدير، ولم يفهموا. حكمة الله سبحانه وتعالى البالغة من تقدير هذه المقادير على الناس من الغنى والفقر والمرض والعافية. والموت والحياة، وكل هذه المقادير لله عز وجل، حكمة بالغة لا يدركها من لم يفهم. سر الله سبحانه وتعالى في القدر، ولذلك العلاج النافع في هذا الباب هو التسليم، وليس إعمال العقل. في كل تفاصيل القدر. وليعلم الإنسان أن الله سبحانه وتعالى قد كتم هذا القدر عن الناس، لحكمة يعلمها، فلو أظهرها الله سبحانه وتعالى للخلق لما انتفعوا بذلك. إذن تقدير الله عز وجل هو خير لهم. وكتم القدر، وهو سر الله عز وجل في خلقه، هو خير لهم في دينهم ودنياهم، وفي معاشهم وآخرتهم. وحديث مسلم بن يسار أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه سئل عن هذه الآية، وإذا أخذ ربك من بني آدم من ظهورهم؟ قال عمر سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عنها، فقال إن الله خلق آدم، ثم مسح ظهره بيمينه، واستخرج منه ذريته، فقال خلقت هؤلاء للجنة، وبعمل أهل الجنة يعملون. ثم مسح ظهره، فاستخرج منه ذرية، فقال خلقت هؤلاء للنار. وبعمل أهل النار يعملون، فقال رجل يا رسول الله، ففيما العمل؟ ففيما العمل؟ قال النبي صلى الله عليه وسلم إن الله عز وجل إذا خلق العبد للجنة استعمله. بعمل أهل الجنة. حتى يموت. على عمل أهل الجنة. فيدخل به الجنة، وإذا خلق العبد للنار إستعمله بعمل أهل النار حتى يموت على عمل أهل النار، فيدخل به النار. إذن، أيها الإخوة، هذا هو سر الله سبحانه وتعالى في خلقه، لو شاء لكشفه للناس، ولكنه أخفاه لعلمة، لعلة يعلمها، ولحكمة أخفاها سبحانه وتعالى، ليمضي أمره، جل شأنه، قوله رحمه الله تعالى يعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور، هذا خبر عن علمه التام المحيط بجميع الأشياء. وعلم الله سبحانه وتعالى بالإجمالات بالإجماليات وبالتفصيليات. فهو سبحانه وتعالى يعلم كل شيء. ثم قال رحمه الله تعالى فالخلق عاملونا بسابق علمه، أي أن الله تعالى علم ما الخلق عاملون قبل أن يخلقهم. وهذا فيه رد على القدرية الغلاة الذين يقولون إن الله تعالى لا يعلم الأشياء إلا بعد وقوعها. تعال الله عما يقولون. الله سبحانه وتعالى يقول عالم الغيب والشهادة، والله تعالى يقول لتعلموا أن الله على كل شيء قدير، وأن الله قد أحاط بكل شيء علما، وهؤلاء يقولون لا يعلم بها إلا بعد وقوعها، إذا كان لا يعلم بها إلا بعد وقوعها. ما فرقه جل وعلا عن خلقه. كلهم سواء. فذلك يعني اتهام لمقام الربوبية، اتهام عظيم لمقام الله سبحانه وتعالى، ألا يعلم ما يكون في خلقه إلا بعد أن، إلا بعد أن يكون؟ ثم قال رحمه الله تعالى ونافذون لما خلقهم له من خير وشر، أي سائرون وماضون. لما كتبه وقدره. ولذلك في حديث عبد الله ابن مسعود رضي الله عنه قال حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو الصادق المصدوق. إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه 40 يوما، ثم يكون علقة مثل ذلك، ثم يكون مضغة مثل ذلك. ثم يبعث الله ملكا فيؤمر بكتبي أربع كلمات. يقال له اكتب عمله ورزقه وأجله. وشقي أو سعيد، ثم ينفخ فيه الروح. فإن الرجل منكم ليعمل بعم. إن الرجل منكم ليعمل حتى ما يكون بينه وبين الجنة إلا ذراع، فيسبق عليه كتابه، فيعمل بعمل أهل النار. ويعمل حتى ما يكون بينه وبين النار إلا ذراع، فيسبق عليه الكتاب، فيعمل بعمل أهل الجنة. وهذا، أيها الإخوة، يجعل الناس الذين يؤمنون. بالقضاء، وبالقدر. يجعلهم في حاله التسليم. أنهم إذا رأوا شيئا من هذه الأقدار المؤلمة، يعلم أن الله قد قدرها قبل أن يخلقهم، أحيانا قد يحصل للإنسان إذا رأى إنسانا على خير، حياة طويلة. ثم تنكب عن الصراط. فمات على غير الخير، يحزن حزنا شديدا، والواجب على الإنسان أنه مع هذا الحزن يعلم أن الله قد قدره، وأن الله عز وجل يعلم ما لم نعلم من خبيئة نفس هذا الإنسان. والذي ييسره الله عز وجل له من الخير. وفي نفسه خبيئة شر، يختم الله عز وجل له بهذه الخبيئة. وما يسره له من الخير، وهو على عمل الشر، فإن في نفسه من خبيئة الخير ما يختم الله سبحانه وتعالى له بها، هذا لا يعلمه الناس، ولا يدركونه، لذلك لا يجب أن تعلم التفصيلات حتى يحصل عندك الرضا والقناعة والتسليم. بل الواجب عليك التسليم، حتى لو لم تكن الله عز وجل لما مدح الذين يؤمنون بالغيب، لماذا مدحهم الله؟ هذا هو معنى الإيمان بالغيب، أن تؤمن بأن الله سبحانه وتعالى أعلم بخلقه وما يصلحهم. منك، وأرحم بهم منك، إذا حصل الإنسان هذا المعرفة، وهذا الإيمان بالغيب، وبالقدر خيره. وشره إطمأنت نفسه وسلته حتى على هذه المكاره التي تصيبه، أو يضيق صدره لأجلها. هنا، أيها الإخوة، يعني؟ مثل ما يحصل؟ على المسلمين. من وقت النبي صلى الله عليه وسلم مثل ما حصل في أحد، ومثل ما حصل في حنين. ومثل ما حصل في، آه؟ يعني في. في عهد ابي بكر مثلا؟ وفي كل العصور إلى هذا العصر، يحصل على أمة الإسلام ما يضيق به صدور المسلمين. لكن. نعلم أن الله الذي يسلينا. إنا نح، لسنا نحن من نحفظ دين الله. الله عز وجل حافظ دينه، وحافظ كتابه، وحافظ شريعته. فلا نحزن صحيح، نحزن لما يحصل، لكن لا تذهب نفوسنا حسرات. يجب علينا أن نسلم وأن نرضى بقضاء الله وقدره. حتى تطمئن نفوسنا، لأن أيها الإخوة كثرة الحزن الذي يحصل للإنسان، يضعفه أو يقويه، هاي، يا إخوة. كثرة الحزن. مضعفا لذلك كان النبي صلى الله عليه وسلم يستعيذ بالله من يا أخوة، هذا التسليم هو قوة إيمانية ينبغي ألا يتخلى عنها أصحاب الإيمان لأجل ما يحصل في نفوسهم من الهم والغم وضيق الصدر، من أجل هذه الأقدار المؤلمة التي تحصل سواء على أنفسنا أو على أولادنا أو على أهلينا أو على بلادنا، أو على عموم المسلمين، نعم يحصل الحزن، كما حزن النبي صلى الله عليه وسلم، ويحصل الهم كما هم النبي صلى الله عليه وسلم، لكن لا يلجأ الإنسان هذا إلى اليأس وإلى القنوط وإلى الشك في. في أمر الله سبحانه وتعالى أو دينه أو أمره، لا، هذا هو. هذا من فوائد الإيمان ب. بالقضاء والقدر، ثم قال رحمه الله تعالى لا يملكون لأنفسهم من الطاعة نفعا، ولا يجدون إلى صرف المعصية عنها دفعا، أي لا يملك العباد نفع أنفسهم بالطاعة. لأن الذي يعلم قبولها وردها من هو الله سبحانه وتعالى، النبي صلى الله عليه وسلم قال يصلي أحدكم لا يقبل إلا آ نصفها، ثلثها ربعها، حتى قال عشرها، وتجد الرجلان يقومان في الصف الواحد، أحدهما صلاته في عنان السماء، وأحدهم تلف، ثم يضرب بها وجهه لما هم يقفان في نفس المكان، وقد توضأ، وفي نفس المسجد، وإلى نفس القبلة، ونفس ال الشروط والأركان والأحكام. لكن القبول من الله سبحانه وتعالى، والقبول هذا لا تدركه أنت الله سبحانه وتعالى وحدة هو الذي هو الذي يعلم من يستحق هذا القبول. ثم قال. قوله رحمه الله تعالى. خلق الخلق بمشيئته. قل الله خالق كل شيء. كل شيء خلقه الله سبحانه وتعالى، كل الأشياء التي نعلمها والتي لا نعلمها، والعوالم التي ندركها، والتي لا ندركها والتي نراها والتي لا نراها، الله عز وجل، خالق كل ما سواه سبحانه وتعالى. وقوله عن غير حاجة كانت به، فإن الله عز وجل ما خلق أيها الإخوة الخلق، ليست أكثر بهم من قلة. ولا ليستعز بهم من ضعف، ولا لنتصر بهم من ذلة، فالله عز وجل هو القوي، وهو العزيز، وهو القاهر، وهو الغني سبحانه وتعالى عن كل أحد من خلقه. ولذلك، حينما. يعني يخلق الله سبحانه وتعالى هذا العدد من ملائكته الذين لا يعلم عددهم إلا الله سبحانه وتعالى، عددهم عظيم وخلقهم عظيم. ومنهم حملة العرش، لكن الله سبحانه وتعالى حينما يقول لهم موتوا. فإن كل الخلق يموتون. ويبقى الله سبحانه وتعالى لأن الله مستغني عن خلقه، فليس بحاجة إلى ملائكته، ولا إلى حملة عرشه. ولا إلى أحد من الإنس، ولا إلى الجن، ولا العوالم التي لا نعرفها، فالله سبحانه وتعالى مست مستغني، لذلك خلق الخلق سبحانه وتعالى. وهو الغني يا أيها الناس، أنتم الفقراء إلى الله، والله هو الغني، والله هو الغني الحميد. وربك. الغني ذو الرحمة. وعن أبي ذر عن النبي صلى الله عليه وسلم. فيما رواه عن الله عن الله تبارك وتعالى أنه قال. حديث القدسي يا عبادي، إنكم لن تبلغوا ضري، فتضروني. ولن تبلغوا نفعي، فتنفعوني، يا عبادي، لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم. كانوا على أتق أتقا، قلب رجل واحد منكم، ما زاد ذلك في ملك شيئا، يا عبادي، لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا على أفقر على أفجر قلب رجل واحد منكم، ما نقص ذلك من ملك شيئا. يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم قاموا في صعيد واحد، فسألوني، فأعطيت كل إنسان مسألة ما نقص ذلك مما عندي، إلا كما ينقص المخيط إذا أدخل في البحر. الله أكبر. هذا يبين لنا عن ضعف الخلق. وعن كمال الخالق سبحانه وتعالى. ومثل هذه الأحاديث أيها الأخوة، وإن كانت يعني أحاديث معلومة ومشهورة ومعروفة، إلا أن تلاوة السنة، آ انشراح للصدور. وزيادة للإيمان. وتثبيت. لي ما استقر في نفس الإيمان من حق الله سبحانه وتعالى. عليه، وقدر الله سبحانه وتعالى في نفسه. إذن، أيها الإخوة، ملخص هذا، أن الإيمان بالقدر. لا يتحقق إلا بأربع مراتب. المرتبة الأولى العلم. المرتبة الأولى العلم، ومعناها أن الله تعالى قد علم كل شيء، علم الموجودات والمعدومات والممكنات والمستحيلات. هذه هي. المرتبة الأولى والأدلة عليها قول الله سبحانه وتعالى عالم الغيب والشهادة، وقول الله تعالى تعلم أن الله على كل شيء قدير، وأن الله قد أحاط بكل شيء علما. المرتبة الثانية. المرتبة الثانية الكتابة. ومعناها أن الله كتب كل شيء في اللوح المحفوظ، والله سبحانه وتعالى يقول ما فرطنا في الكتاب من شيء، والله جل وعز يقول وكل وكل شيء أحصيناه في إمام مبين. المرتبة الثالثة. المشيئة. ومعناها. أن ما شاء الله كان. ما شاء الله. كان قال الله سبحانه وتعالى إنما أمره إذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون. وأن ما لم يشأ لم يكن. أن ما لم يشأ لم يكن، ليس لعجز الله عنه، ولكن لأن الله لم يشأه ولم يرده. قال الله سبحانه وتعالى ولو شاء الله لجمعهم على الهدى. نعم. والمشيئة، أيها الإخوة؟ هي ترادف الإرادة. الإرادة تنقسم إلى، كما لا يخفاكم، تنقسم إلى قسمين. إرادة كونية قدرية، وإرادة شرعية. الكونية تراد في إيش تراد في المشيئة؟ وما تشاؤون إلا. إلا أن يشاء الله. أما الإرادة الشرعية. فهي ما يحبه الله سبحانه وتعالى ويرضاه. لأن الإرادة الكونية قد يكون فيها ما يحبه الله، وما لا يحبه الله، الله عز وجل يحب من الناس الإيمان، يحب منهم الخير، يحب منهم العبادة، يحب منهم الطاعة. لكن يوجد المعصية. ويوجد الكفر، ويوجد البدعة. هذه مرادة قدرا، لكنها غير مرادة شرعا. والفهم فهم هذه المسألة هو تقريرها هو من المنجيات في هذا الباب أن يفهم الناس الفرق بين الإرادة الكونية والإرادة الإرادة الشرعية. المرتبة الرابعة. الخلق، ومعناها أن الله خالق كل شيء. قال الله سبحانه وتعالى ذلكم الله ربكم لا إله إلا هو خالق. كل شيء فاعبدوه، وقال تعالى قل الله خالق كل شيء. وهو الواحد القهار. هذه هي المسألة المتعلقة بالقدر، وهذه من المسائل المهمة. التي. تتجدد بين حين وحين، يتبناها في بعض هذه الأزمان، متأخرين من التنويريين، ومن بعض العقلانيين. ويعني. وكان يتبناها قبلهم المعتزلة والقدرية، و فرق ظلت في هذا الباب. فيعني لكل بدعة وارث، لكنهم يتغيرون وتتجدد أسماؤهم، ولكن عقيدتهم واحدة، ولذلك الرد عليهم من عقيدة أهل السنة والجماعة. بفضل الله لسنا بحاجة إلى رد جديد، فنحن نرد عليهم بما رد عليهم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم منذ 1400 سنة. أيها الأخوه؟ انتهى وقت هذا المجلس بالساعة الثانية عشرة. ونقف على هذا الموضع إن شاء الله، ونلتقي بكم أه الساعة 4:00 إن شاء الله في المجلس الثالث، وأسأل الله عز وجل لي ولكم التوفيق والسداد، وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.




