Menurut catatan BNPB per 27 Januari 2026 pukul 12.00 WIB, total korban meninggal dunia mencapai lebih dari 1.200 orang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sedangkan sekitar 140 orang masih dinyatakan hilang. Untuk wilayah Sumatera Barat sendiri, tercatat ratusan jiwa meninggal dunia dan puluhan lainnya masih berstatus hilang. Kepala BNPB, menjelaskan, “Meskipun bencana terjadi dua bulan lalu, dampaknya masih signifikan. Kami terus memantau kondisi pengungsi dan menyalurkan bantuan agar kebutuhan dasar mereka terpenuhi.”
Selain korban jiwa, BNPB melaporkan lebih dari 110 ribu warga tetap mengungsi di fasilitas sementara, termasuk sekolah dan balai desa, akibat rumah mereka rusak total. Infrastruktur vital seperti jalan, jembatan, dan fasilitas umum juga mengalami kerusakan yang menghambat mobilitas warga. Suasana di lokasi pengungsian terlihat penuh kesibukan, dengan relawan dan aparat pemerintah berupaya memastikan pengungsi mendapatkan makanan, air bersih, dan pelayanan kesehatan.
Proses pemulihan dan rehabilitasi pascabanjir di Sumatera Barat dan provinsi terdampak lainnya masih menjadi prioritas pemerintah pusat dan daerah. Bapak Suharyanto menambahkan, “Fokus kami adalah menyediakan hunian sementara yang layak, memperbaiki infrastruktur, dan mendukung pemulihan ekonomi masyarakat agar mereka bisa kembali mandiri secepat mungkin.” Para pengungsi juga terus diberikan pendampingan psikososial untuk membantu mengurangi trauma akibat bencana.
BNPB menegaskan perlunya koordinasi yang berkelanjutan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan lembaga kemanusiaan agar proses pemulihan berjalan optimal. Dengan pemantauan dan dukungan yang tepat, diharapkan masyarakat terdampak banjir dan longsor dapat segera kembali ke kehidupan normal serta membangun kembali rumah dan mata pencaharian mereka secara berkelanjutan. Suasana berakhir dengan optimisme meski masih banyak tantangan yang harus diatasi.
Sumber: Info Sumbar



