Kabasurau.co.id: BANDUNG — Bencana longsor dan banjir bandang yang melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada akhir Januari 2026 mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi. Pakar kebencanaan dan geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menilai peristiwa tersebut merupakan kombinasi dari faktor alam dan kondisi lingkungan yang sudah rentan. Curah hujan ekstrem yang terjadi dalam waktu lama menjadi pemicu utama terjadinya pergerakan tanah berskala besar.
Pakar geologi ITB, Bapak Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, menjelaskan bahwa longsor di Cisarua tidak hanya dipicu oleh hujan deras, tetapi juga diperparah oleh terbentuknya bendungan alami di bagian hulu. Bendungan tersebut kemudian jebol dan memicu aliran material lumpur atau mudflow yang bergerak cepat ke arah permukiman warga. Kondisi topografi lereng yang curam turut memperbesar daya rusak bencana tersebut.
“Ketika hujan ekstrem berlangsung lama, air akan terakumulasi di dalam tanah dan melemahkan struktur lereng. Jika ditambah dengan bendungan alami yang runtuh, maka material tanah dan batu akan bergerak sangat cepat dan sulit dikendalikan,” ujar Bapak Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun dalam keterangannya kepada media di Bandung, Rabu (28/1/2026). Ia menegaskan bahwa fenomena ini umum terjadi di wilayah pegunungan dengan tingkat kerentanan longsor yang tinggi.
Lebih lanjut, Bapak Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun mengingatkan masih adanya potensi longsor susulan di kawasan terdampak. Menurutnya, kondisi tanah yang belum stabil serta prakiraan cuaca yang masih menunjukkan potensi hujan menjadi faktor risiko lanjutan. Oleh karena itu, masyarakat di sekitar lokasi bencana diminta untuk tidak beraktivitas di zona rawan hingga dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat didorong untuk memperkuat upaya mitigasi bencana berbasis kajian ilmiah. Langkah-langkah tersebut meliputi pemetaan ulang kawasan rawan longsor, penataan tata ruang, serta peningkatan sistem peringatan dini. Edukasi kepada masyarakat juga dinilai penting agar warga dapat mengenali tanda-tanda awal potensi bencana.
Dengan adanya penjelasan dari para ahli, diharapkan penanganan pascabencana di Bandung Barat tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga pada pencegahan jangka panjang. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang. Upaya ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tangguh terhadap ancaman bencana alam.
Sumber: Antara news



